Sabtu, 29 Februari 2020

LAPORAN 3 PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I

LAPORAN PRAKTIKUM  
KIMIA ORGANIK I 


DISUSUN OLEH:

FITRIANTY
 (A1C118032)

DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
 
 
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI   
2020




VII. DATA PENGAMATAN  

7.1 REKRISTALISASI
NO.
               PERLAKUAN
HASIL
1.
2 sudip asam benzoat + 1 sudip norit + 1 sudip glukosa lalu dilarutkan dalam air panas.
adanya gelembung-gelembung dan larutan berwarna hitam
2.
Dilakukan penyaringan dengan menggunakan corong Buchner
warna larutan berubah menjadi jernih
3.
Dijenuhkan dengan cara didinginkan didalam air es
terbentuk kristal yang mengkilap
4.
Disaring larutan yang sudah dijenuhkan, lalu dikeringkan

5.
Diuji titik lelehnya



7.2 SUBLIMASI
NO.
PERLAKUAN
HASIL
1.
Cawan penguap yang telah diisi 1 gram naftalen dan 1 gram pengotor (pasir) . Dipanaskan dan ditutupi pada bagian atas dengan menggunakan corong yang disumbat dengan kapas dan kertas saring diatas cawan tersebut, dipanaskan ±4 menit.
Terbentuknya kristal pada dinding corong, sedangkan pasir kasar dan airnya tetap pada cawan penguap sedangkan pasir yang halus nempel pada kertas saring.
2.
Diuji titik lelehnya.
meleleh pada saat suhu 84C
VIII. PEMBAHASAN
untuk memurnikan suatu zat padat dari campurannya diperlukan pendekatan serta teknik yang khusus. Mengenal maupun mengidentifikasi suatu senyawa yang dimurnikan dengan jalan mengetahui sifat-sifatnya baik kimia maupun fisiknya merupakan salah satu pendekatan praktisnya. Jika kita paham akan sifat-sifatnya akan mencapai keberhasilan dalam memisahkan zat padat terutama dalam suatu zat padat yang akan dimurnikan dalam pelarut. Sebagai praktikan juga perlu mengetahui bagaimana macam-macam pelarut organik serta gradienkepolarannya ketika anda ingin mencampurkan dua atau lebih jenis pelarut terutama pada suatu zat padat. Ada beragam jenis teknik dalam memurnikan zat padat seperti kristalisasi, sublimasi dan kromatografi. Tenknik ini digunakan sesuai dengan kompleksitas kemurnian zat padat tersebut beserta dengan sifat-sifatnya. Sebagai praktikan, harus mempelajari beberapa sumber tentang teknik yang digunakan dalam memurnikan zat padat. Jika anda berhasl memurnikan suatu zat padat, anda dapat menguji titik leleh zat padat tersebut dengan cara kromatografi lapis tipis. ( http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/07/pemurnian-zat-padat-organik93/ )
Percobaan kali ini setelah menalaah kesesuaian pada alat dan bahan yang ada serta pelarut yang digunakan untuk melarutkan suatu zat padatnya, akan dilakukan percobaan pemurnian zat padat menggunakan cara rekristalisasi dan sublimasi dengan memperoleh hasil sebagai berikut :
  8.1 REKRISTALISASI
   Pada praktikum kali ini, dilakukan percobaan rekristalisasi menggunakan bahan asam benzoat. Proses rekristalisasi ialah proses yang digunakan untuk memurnikan zat padat dengan melarutkan pada suatu pelarut tertentu dengan titik didihnya, lalu disaring pada keadaan panas agar dipisahkan zat padat tersuspensi dalam air. Prinsip dari rekristalisasi ini adalah senyawa tertentu dalam campuran akan memiliki kelarutan yang tertentu pula pada sistem tertentu. Pada percobaan ini, bahan yang digunakan adalah asam benzoat. Sebelu melakukan percobaan, praktikan harus menentukan terlebih dahulu pelarut yang digunakan yang dianggap sesuai. Dimana pelarut yang digunakan pada percobaan ini adalah air. Mengapa menggunakan pelarut air? karena kelarutan asam benzoat sangat kecil dalam air dengan menghasilkan suhu yang minim. Sebelum dilakukan pencampuran asam benzoat pada air, terlebih dahulu ditambahkan zat pengotor, karena asam benzoat yang digunakan tidaklah dalam keadaan murni. Zat pengotor yang digunakan adalah glukosa karena pelarut air mampu melarutkan glukosa yang memiliki suhu yang tinggi.
Asam benzoat dan glukosa akan larut sempurna dalam air panas dimana larutan tersebut berwarna hitam. Larutan berwarna hitam karena adanya penambahan norit dengan tujuan mempersingkat laju pemurnian. Penambahan norit ini tidak semua larut. Dengan adanya serbuk norit kemudia disaring filtratnya . Dimana warna larutan setelah disaring menjadi jernih. larutan akan mengkristal ketika asam benzoat larut dalam suhu yang tinggi dan sebaliknya ketika turun akan menyebabkan kelarutan asam benzoat pun turun. Maka dari itu, kelarutan suatu zat sangat bergantung pada suhu pelarut. sehingga terbentuk kristal pada dinding gelas kimia, lalu dilakukan pendinginan dengan cara memasukkannya dalam air dingin yang menghasilkan kristal lebih banyak lagi.  Kemudian kristal tersebut disaring dan dikeringkan menggunakan corong buchner lalu ditentukan titik lelehnya menggunakan pipa kapiler. penentuan titik leleh senyawa ini dilakukan dengan MPA dan termometer karena dianggap lebih akurat., sehingga titik leleh kristal asam benzoat adalah........Sedangkan pada literatur, titik leleh asam benzoat yaitu 119-121C.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil rekristalisasi dan penentuatitik leleh dari suatu zat murni yaitu teknikk praktikan ketika mencampurkan beberapa jenis zat dengan perbandingan yang tidak tepat serta proses penyaringan yang kurang  yang membuat zat pengotor lolos pada saat penyaringan yang akan mengganggu penentuan titik leleh. Hal yang menyebabkan titik leleh yang didapat berbeda dari literartur adalah pada saat penentuan titik leleh bisa saja sebelum menggunakan termometer, termometer tersebut belum dikalibrasi dengan semestinya. Tidak telitinya praktikan dalam proses pemurnian juga dapat mempengaruhi hasil rekristalisasi. Semakin murni zat yang dihasilkan setelah proses pencampuran dengan zat pengotor, semakin rendah sesuai titik leleh murninya. Hal ini disebabkan pada proses penyaringan dan pengeringan yang kurang teliti dimana kristal masih mengandung air. Kemurnian zat padat ini sangat diperlukan untuk melakukan pemisahan terhadap pengotornya.
  8.2 SUBLIMASI
Pada percobaan kali ini praktikan menggunakan bahan yang mengandung naftalen yaitu kapur barus yang telah di kotori (ditambah pasir). proses sublimasi ialah proses  yang digunakan untuk memurnikan zat padat dengan diuapkan tanpa melalui peleburan. Pada proses penyubliman, terjadi perubahan dimana perubahan zat padat menjai uap. Tahap sublimasi ini memiliki syarat yaitu campuran yang akan diamati memilii titik didih yang berbeda. Pada percobaan ini naftalen yang telah tercemar diletakkan diatas cawan penguap, lalu diutup dengan kertas saring yang telah diberi lubang-lubang kecil.orong disumbat dengan gelas wool dan diletakkan dengan posisi terbalik diatas kertas saring penutup cawan tersebut. Agar terjadinya penguapan, dipanaskan diatas api yang kecil hingga seluruh naftalen tersublimasi secara menyeluruh. proses sublimasi ini berhasil yang ditandi dengan kristal yang ada pada dinding corong, sedangkan zat pengotor yang halus menempel pada kertas saring dan pengotor yang kasar menetap dicawan penguap. Penyumbiman ini dilakukan pada suhu kamar. Kemudian kristal tersebut dipisahkan lalu diuji titik lelehnya  dengan memasukkan kristal tersebut kedalam pipa kapiler dan diuji menggunakan alat MPA. Kristal tersebut tepat meleleh pada suhu 84⁰C. Pemurnian zat padat ini menggunakan teknik sublimasi ini, naftalen yang tercemari dalam bentuk padatannya dapat menguap, dan uap tersebut menempel pada kaca corong yang kembali menjadi padat dalam bentuk kristal. Hal ini terjadi karena proses sublimasi terjadi perubahan padatan menjadi gas tanpa harus melewati fasa cair. 
IX. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :


  1. Rekristalisasi dan sublimasi ialah cara yang dapat digunakan untuk memurnikan zat organik.
  2. Pada proses rekristalisasi, jika menggunakan pelarut jumlahnya lebih sedikit dibanding dengan zat yang akan dimurnikan, agar zatyang dihasilkan dapat lebih banyak.
  3. Pada prinsip operasional rekristalisasi, perlu diatur kecepatan penurun suhunya. Ada beberapa proses operasional rekristalisasi, diantaranya :
    • Dengan pelarut yang telah ditentukan dari titik didihnya dapat melarutkan zat padat.
    • Dengan cara menurunkan suhu larutan secara perlahan, dapat dilakukan kristalisasi selektif dalam pelarut tertentu.
    • Penyaringan terhadap kristal murninya dipisahkan dari larutannya.
  4. Percobaan subtitusi naftalen dapat digantikan dengan kapur barus berwarna karena kapur barus mengandung naftalen.


X. DAFTAR PUSTAKA
  • Agustina.2013. Analisis Kimia. Jakarta : Gramedia
  • Sulistyaningsih. 2015. Rekristalisasi Garam Rakyat Dari Daerah Demak Untuk Mencapai SNI Industri. Vol 2. No 4:76[diakses:28 februari 2019]
  • syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/07/pemurnian-zat-padat-organik93/
  • Syukri. 2003. Kimia Dasar 1. Bandung : ITB
  • Tim Kimia Organik.  2016.Penuntun Praktikum Kimia Organik I. Jambi: Universitas Jambi
link video :

https://youtu.be/SslvXZIobSc
permasalahan yang timbul dari praktikum yang telah dilakukan yaitu:
  1. Jelaskan mengapa suhu dapat mempengaruhi proses sublimasi ?
  2. mengapa pada percobaan sublimasi, saat dipanaskan cawan penguap ditutup oleh kerta saring?
  3. jika keterbatasan bahan di laboratorium untuk melakukan percobaan ini, maka bahan yang seperti apa yang akan digunakan serta dengan cara untuk memurnikan zat tersebut ? jelaskan argumen anda


LAMPIRAN FOTO PRAKTIKUM 
   
alat dan bahan yang digunakan
saat menimbang naftalen
saat memanaskan air untuk menyiram endapan
  
saat penyaringan campuran
kristal yang didapat pada proses sublimasi
                                     




Senin, 24 Februari 2020

JURNAL 3 PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1

  JURNAL PRAKTIKUM  
KIMIA ORGANIK I



 
DISUSUN OLEH:

FITRIANTY
 (A1C118032)

DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI   
2020

PERCOBAAN 3

Judul                 :Pemurnian Zat Padat
Hari, Tanggal : Rabu, 26 Februari 2020
Tujuan              :
         Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu:
  1. Dapat melakukan kristalisasi dengan baik.
  2. Dapat memilih pelarut sesuai untuk rekristalisasi.
  3. Dapat menjernihkan dan menghilangkan warna larutan.
  4. Dapat memisahkan dan memurnikan campuran dengan rekristalisasi.
IV.  Landasan Teori 
     Pada pemurnian zat padat diperlukan pendekatan dan tenik yang sangat khusus. Mengidentifikasi suatu senyawa padatan yang akan dimurnikan serta mengetahui sifatnya baik itu secara kimia maupun fisik merupakan pendekatan praktisnya. Sebagai praktikan yang baik dan benar, kita harus mengetahui jenis gradien kepolaran dan pelarut organik jika anda ingin mencampurkan 2 atau lebih pelarut untuk melarutkan sebuah senyawa padat. Teknik yang dipilih berdasarkan kompleksitas kemurnian senyawa padat tersebut. Semakin komplek suatu senyawa tersebut maka diperlukan teknik yang kompleks pula dalam pemisahan zat padat. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi teknis dalam memurnikan suatu senyawa, antara lain : teknik kristalisasi, sublimasi dan kromatografi. Pada tahap ini, jika praktikan berhasil dalam memurnikan zat, diperlukan uji tingkat kemurniannya melalui pendekatan titik leleh. 
http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/07/pemurnian-zat-padat-organik93/ )
       Menurut Tim Kimia Organik (2016), cara yang paling sering digunakan dalam memurnikan senyawa padat yaitu rekristalisasi. Cara kristalisasi yang digunakan pada suatu campuran disebut rekristalisasi. Untuk menentukan cara apa yang digunakan harus sesuai pelarut dan titik didih yang digunakan, kemudian disaring pada saat larutan masih panas agar zat padat tersebut dapat dipisahkan yang tidak ikut larut. Masing-masing senyawa mempunyai sifat kelarutan yang berbeda-beda. Karena perbedaan sifat inilah prinsip dari rekristalisasi. Pada tahap ini, larutan yang digunakan standar, jangan terlalu pekat, hingga jumlah pelarut yang digunakan dapat dihitung. Pelarut yang paling lazim digunakan yaitu pelarut cair. Mengapa pelarut cair? Karena pelarut ini dapat ditemukan dimana-mana menggunakan, tidak reaktif. Berikut adalah ciri-ciri pelarut yang baik digunakan adalah sebagai berikut :
1. Tidak bereaksi dengan zat yang akan dimurnikan. 
2. Pelarut tidak bisa melarutkan zat padat pada suhu kamar. 
3. Zat padat yang digunakan memiliki kelarutan yang tinggi dari suhu didih pelarutnya. 
4. Titik didih pelarut lebih tinggi dari titik leleh zat yang akan diamati. 
      Menurut Sulistyaningsih (2015), senyawa dengan bagian terbesar  NaCl atau lazim digunakan untuk garam didapur serta memiliki pengotor seperti kalsium sulfat (gips) CaSO4, magnesium sulfat (MgSO4), dan magnesium klorida (MgCl2). Perlakuan yang digunakan untuk mendapatkan garam yaitu dengan air laut diuapkan akan menghasilkan kristal garam atau disebut garam krosok. Suatu garam dapur yang belum dimurnikan akan mengandung zat pengotor seperti Mg2+, Al2+, Ca2+, SO42- dan lain sebagainya. Untuk mengetahui kualitas garam yang digunakan maka kita lakukan  cara kristalisasi bertingkat, rekristalisasi serta pencucian garam. 
         Menurut Syukri (2003), pada umumnya zat padat memiliki sifat titik didih yang tajam yang menyebabkan suhunya rendah. Pada zat padat amorf pada suhu yang tinggi akan melunak dan melebar. Partikel yang kecil membuat sulit dipelajari karena ketidakteraturannya. Sehingga yang dipelajari pada pembahasan ini hanya membahas kristal zat padat.
       Menurut Agustina (2013), perbedaan kelarutan antara zat yang akan dimurnikan dengan dengan larutannya merupakan prinsip yang mendasari proses rekristalisasi. Larutan yang dibentuk dapat dipisahkan antara satu sama lain. Setelah itu, larutan yang terbentuk didinginkan serta dikristalkan melalui proses penjenuhan. Untuk mendapatkan supernaturasi dapat dilakukan empat cara, yaitu dengan mengubah-ubah suhu, menguapkan pelarut, mengubah komposisi pelarut serta reaksi kimianya.


V. Alat dan Bahan
     5.1 Alat
  • Gelas kimia
  • Bunsen
  • Pengaduk
  • Corong Buchner
  • Cawan penguap
     5.2 Bahan
  • Air suling
  • Asam benzoat
  • Kertas saring
  • Naftalen
  • Kapas
VI.  Prosedur Kerja
6.1ProsedurPercobaan Rekristalisasi
  1. Dituang 50 mL air suling kedalam gelas kimia, dipanaskan sampai timbul gelembung-gelembung.
  2. Dimasukkan 0,5 gram asam benzoat tercemar kedalam gelas kimia yang lain, ditambah air panas sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga larut semua.
  3. Saring campuran dengan corong Buchner dalam keadaan panas dan ditampung filtratnya. DIsiram endapan yang tertinggal dengan air panas.
  4. Disaring kristal yang terbentuk dengan corong Buchner, lalu dikeringkan.
  5. Diuji titik leleh dan bentuk kristalnya, dibandingkan dengan data yang ada dalam hand book.    
 6.2 Sublimasi
  1. Dimasukkan 1-2 gram naftalen tercemari kedalam cawan penguap.
  2. Ditutup permukaan cawan penguap dengan kertas saring yang telah diberi lobang kecil.
  3. Disumbat corong dengan kapas.
  4. Diletakkan cawan diatas pembakar dan dipanaskan dengan nyala api kecil.
  5. Dihentikan pembakaran jika semua zat yang disublimasikan habis.
  6. Dikumpulkan zat yang ada pada kertas saring dan corong, kemudian diuji titik leleh dan bentuk kristalnya, cocokkan dengan handbook.
Berikut link vidio dari percobaan diatas yaitu

https://m.youtube.com/watch?v=c2dBmiMp2Nk
                              Dan
https://m.youtube.com/watch?v=5BS804vknnk

Dari vidio tersebut terdapat permasalahan yaitu:
  1. Dari video yang telah dicantumkan, apakah warna pada kapur barus mempengaruhi proses kristalisasi? 
  2. Apa saja yang dapat mempercepat laju reaksi pengkristalan selain suhu?
  3. Apakah ada bahan lain yang digunakan untuk proses kristalisasi selain kapur barus?

Selasa, 18 Februari 2020

LAPORAN 2 PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK I

LAPORAN PRAKTIKUM  
KIMIA ORGANIK I 




DISUSUN OLEH:

FITRIANTY
 (A1C118032)

DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI   
2020



     7.1 Kalibrasi Termometer 
NO.
PERLAKUAN
HASIL
1.
Dimasukkan termometer kedalam labu erlemeyer yang telah diisi dengan air dan batu es serta disumbat dengan penyumbat agar terisolasi dari udara luar.
Setelah air dan bumbu es bercampur, ternyata es mencair, dan larutan volume tersebut menjadi 130 mL dengan suhu tepat pada 0°C.
2.
Dimasukkan termometer kedalam labu erlenmeyer yang diisi aquades serta disumbat dan dilakukan pemanasan.
Setelah dipanaskan, air mendidih pada suhu 92°C . Kemudian suhu air ini konstan pada 99°C.

7.2 Penentuan Titik leleh
A.  Penentuan Titik Leleh Senyawa Murni
No.
Nama senyawa
Pelarut
 Suhu tepat meleleh (oC)
Suhu meleleh seluruhnya (oC)
Manual
MPA
Manual
MPA
1.
Betha-naftol
Minyak
105°C

115°C

2.
Naftalen
Minyak
78°C
85°C
84°C
100°C
3.
Glukosa
Minyak
120°C
162,72°C
140°C
180°C
4.
Asam benzoat
Minyak
98°C
115°C
150°C
120°C
5.
Maltosa
Minyak
105°C
107°C
102°C
7.3 Penentuan Titik Leleh Senyawa  campuran
No.
campuran
Perbandingan 1:1
Perbandingan 1:3
Perbandingan 3:1
tepat
semua
tepat
semua
tepat
semua
1.
Naftalen : Glukosa
100°C148°C148°C155°C130°C146°C
2.
Glukosa : Betha-naftol
130°C140°C146°C150°C138°C149°C
3.
Betha-naftol : asam benzoat
88°C92°C90°C103°C85°C120°C
4.
asam benzoat : Maltosa
110°C120°C100°C155°C97°C135°C
5.
Maltosa : Naftalen
120°C122°C110°C114°C113°C
115°C

VIII. PEMBAHASAN
      Pada kali ini praktikan melakukan percobaan tentang kalibrasi termometer dan penentuan titik leleh baik iti senyawa murni maupun senyawa campuran. Percobaan yang pertama kali dilakukan praktikan yaitu mengkalibrasi suatu termometer dengan tujuan pada saat pengukuran suhu nantinya meminimalisir kesalahan atau ketidakpastiannya. Setelah termometer terkalibrasi, barulah kita bisa menghitung titik leleh suatu senyawa baik itu senyawa murni maupun senyawa suatu campuran. Pada penentuan titik leleh kali ini, praktikan menggunakan bahan zat padat. Pada penentuan titik leelh zat padat ini nantinya akan terjadi perubahan wujud dari padat ke cair tergantung pada suhu yang dikehendaki. Tingkat kemurnian suatu zat tersebut dapat dijelaskan melalui awal mulanya zat padat tersebut meleleh sampai melelh seluruhnya. Suhu akan berbanding terbalik dengan tingkat kemurnian suatu zat dimana semakin tinggi suhu semakin rendah praktikan mendapatkan kemurnian zat, begitu juga selanjutnya semakin rendah suhu, maka semakin tinggi tingkat kelarutan yang didapat. 
       
8.1 Kalibrasi Termometer
           Alat yang digunakan untuk mengukur suhu baik panas, dingin, maupun ruangan dari suatu objek dalam bentuk cair, padat, dan gas disebut termometer. Termometer yang akan digunakan perlu diuji ketepatannya sebelum dipakai untuk menghitung derajat dingin, panas maulun ruangan dari suatu objek yang hendak diukur. Apapun yang diberikan oleh termometer tentang ketepatan serta keakuratannya hasil pengukuran suatu suhu objek sangat diperlukan dalam menindak lanjuti percobaan selanjutnya dalam penentuan titik leleh zat. Maka dari itu kita harus memperhatikan betul cara dan taktis yang digunakan dalam mengkalibrasi termometer dan harus menentukan apakah termometer tersebut masih bisa digunakan atau tidak serta menghindari kerusakan pada saat menggunakan termometer tersebut.
  Pengkalibrasian termometer ini bertujuan untuk menetapkan batas atas dan bawah suatu termometer. Pada percobaan ini, untuk menetapkan batas atas menggunakan air yang dipanaskan pada pemanas hingga tepat mendidih. Pada saat menghitung suhu, mulut erlenmeyer disumbat agar tidak adanya proses keluar masuk suhu dan terisolasi ketika melakukan kalibrasi. Kemudian dimasukkan termometer tepat 1 cm diatas permukaan air. Dari percobaan yang telah saya lakukan didapat bahwa, awal mulanya air mendidih yaitu pada suhu 92°C hingga tepat konstan 99°C. Air yang semakin panas, maka panjang kolom air raksa pun bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa pengkalibrasian termometer batas atas terlaksana dengan baik. Selanjutkan pengkalibrasian skala batas bawah termometer dengan mencampurkan air dan es batu didalam erlenmeyer, lalu disumbat mulut erlenmeyer guna tidak terjadinya pertukaran udara dari luar. Dari percobaan yang dilakukan, didapat bahwa hasil skala bawah yaitu 0°C dengan awal mula volume air 100  mL berubah mendi 130 mL karena es batu tersebut mencair. Jadi dapat disimpulkan bahwa batas atas termometer yang digunakan praktikan adalah 100°C sedangkan batas bawah 0°C. Hal ini membuktikan bahwa praktikan melaksanakan pengkalibrasian termometer secara benar. 
8.2 Penentuan Titik Leleh
Pada suhu tertentu dengan berubahnya fasa padat menjadi uap menggambarkan adanya titik leleh suatu zat tertentu. Untuk mengetahui tingkat kemurnian suatu zat, diperlukannya perubahan suhu pada awal mula zat tersebut meleleh hingga tepat seluruhnya meleleh. Suhu dan tingkat kelarutan pada titik leleh ini berbanding terbalik, dimana semakin tinggi suhu semakin rendah tingkat kemurnian yang didapat. Begitu juga sebaliknya. Pada praktikum ini, praktikan dapat melakukan percobaa. Dengan mencampurkan dan dua bahan padatan dan perbandingan yang berbeda-beda. Pada tahap ini, praktikan harus mencari apa saja faktor-faktor pendukung yang menyebabkan terjadinya perubahan wujud suatu zat dan dapat mengetahui apa saja yang dapat mempercepat atau memperlambat terjadinya suatu perubahan. 
http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70/
      Dari paparan diatas, kita dapat mencoba mencampurkan suatu zat padat dengan zat padat lainnya dengan perbandingan yang bermacam pula. Dengan ini kita dapat mengetahui faktor apa saja yang dapat mempengaruhi perubahan wujud dari padat ke cair.
        Pada percobaan yang telah dilaksanakan sesuai prosedur yang ada, praktikan menggunakan 5 sampel dimana: betha-nafthol, naftalen, asam benzoat, glukosa dan maltosa. Untuk menentukan titik leleh kelima sampel ini, dibutuhkan termometer yang telah dikalibrasi. Kemudian masing-masing sampel dimasukkan kedalam pipa kapiler, diikat pada termometer dan dipanaskan pada minyak. Mengapa pemanasnya menggunakan minyak? Karena jika menggunakan air, ada beberapa zat ataupun sampel yang akaan ditentukan titik lelehnya lebih besar dari air, sehingga akan sulit untuk mendeteksi titik leleh suatu sampel yang sebenarnya. Pada penentuan titik leleh ini dilakukan 2 percobaan dimana yang pertama itu menetapkan titik leleh suatu sampel murni dan yang kedua menetapkan titik leleh suatu campuran dengan cara dan prosedur yang sama. Untuk menetapkan titik leleh sampel murni itu sendiri dilakukan dengan dua cara yaitu secara manual dan MPA. Dari percobaan yang telah dilakukan, hasil yang didapat pada penetapan titik leleh betha-nafthol yang awal mula meleleh dihitung secara manual 105°C dan secara MPA 110°C dan tepat meleleh seluruhnya dihitung secara manu 115°C dan secara MPA 115°C. Untuk penetapan titik leleh naftalen dilakukan secara manual awal mulanya meleleh pada suhu 78°C dan secara MPA 85°C sedangkan tepat seluruhnya meleleh dihitung secara manual pada suhu 84 °C dan secara MPA 100°C. Pada glukosa awal mula meleleh dan diukur titik lelehnya secara manual dan MPA secara berurutan adalah 120°C dan 162,72°C serta tepat seluruhnya meleleh pada suhu 140°C dihitung secara manual dan 180°C dihitung secara MPA. Lalu, titik leleh asam benzoat didapat awal mulanya meleleh yang dihitung berdasarkan manual 98°C dan secara MPA 115°C dan tepat meleleh semuanya yang dihitung pada suhu 150°C secara manual dan 120°C secara MPA. Yang terakhir ini adalah sampel maltosa dimana suhu yang didapatkan tepat awal mulanya meleleh yang diukur secara manual yaitu 105°C dan secara MPA 98°C, sedangkan tepat meleleh seluruhnya itu dihitung secara manual 107°C dan secara MPA 107°C.  Dari data yang didapat, mengapa hasil penentuan titik leleh secara manual dan MPA beda? Sebenarnya tidak berbeda, hanya saja dalam menghitung baik secara manual maupun secara MPA ada yang kurang teliti.
      Selanjutnya penentuan titik leleh suatu senyawa campuran , dimana pada percobaan ini dilakukan 3 perbandingan yang berbeda-beda yaitu 1:1, 1:3, dan 3:1. Untuk campuran yang pertama yaitu naftalen dan glukosa. Pada perbandingan 1:1 campuran tepat melwlh pada suhu 100°C dan tepat melelh semuanya 148°C, pada perbandingan 1:3 awal mula campuran meleleh pada suhu 148°C dan tepat semua meleleh pada suhu 115°C, sedangkan perbandingan 3:1 didapat suhu awal meleleh 130°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 146°C. Pada campuran kedua yaitu glukosa dan betha-naftol, pada perbandingan 1:1 awal mula meleleh pada suhu 130°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 140°C, pada perbandingan 1:3 awal mula meleleh pada suhu 146°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 150°C, sedangkan pada perbandingan 3:1 awal mula meleleh pada suhu 138°C dan tepat seluruhnya 149°C. Selanjutnya pada campuran ketiga yaitu betha-naftol dan asam benzoat dimana pada perbandingan 1:1 awal mula meleleh pada suhu 88°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 92°C, pada perbandingan 1:3 awal mula melelh pada suhu 90°C danctepat seluruhnya meleleh pada suhu 103°C, sedangkan perbandingan 3:1 awal mula meleleh pada suhu 85°C dan 120°C. Campuran keempat yaitu asam benzoat dengan maltosa, dimana pada perbandingan 1:1 awal mula campuran meleleh yaitu pada suhu 110°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 115°C, sedangkan pada perbandingan 3:1 awal mula meleleh oada suhu 97°C dan tepat meleleh seluruhnya pada suhu 135°C. Campuran yang terakhir yaitu maltosa dengan naftalen dimana pada perbandingan 1:1 awal mula meleleh pada suhu 120°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 122°C, pada perbandingan 1:3 awal mula meleleh pada suhu 110°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 114°C sedangkan pada perbandinga 3:1 awal mulacampyran meleleh pada suhu 113°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 115°C.
     Dari percobaan yang telah dilakukan, tujuan dibuatnya perbandingan suatu senyawa campuran yaitu, untuk melihat perbedaan senyawa perbandingan dengan dua zat padat dicampurkan dan mengubah-ubah perbandingan masing-masing zat tersebut. 
IX. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Adapun prinsip - prinsip dasar dalam penentuan titik leleh senyawa murni yaitu suhu. Dimana baik itu fasa padat maupun cair tersebut dalam keadaan setimbang dan pada tekanan 1 atm. Titik leleh akan bertambah dari atas kebawah pada golongan transisi dan juga bertambah dari kiri kekanan dalam satu periodik.
2. Dengan melakukan kalibrasi termlmeter sebelum digunakan maka akan memberikan hasil yang akurat khusus nya pada penentuan titik leleh senyawa murni. Dalam mengkalibrasi termometer juga mendeteksi bahwa termometer dapat digunakan atau tidak dalam suatu percobaan. Dari percobaan yang telah dilakukan, diperoleh batas bawah termometer yaitu 0°C dengan menggunakan bumbu es. Sedangkan batas atas idari termometer ini adalah 99°C
3. Dapat membedakan titik leleh senyawa murni dan campuran yaitu dengan pada titik leleh murni akan terjadi ketidakteraturan penurunan titik leleh serta meluasnya reagen titik leleh tersebut. Pada tahap ino, semakin kecil suhu yang didapat semakin tinggi tingkat kemurnian suatu zat dan sebaliknya semakin tinggi suhu yang didapat semakin rendah pula kita menentukan tingkat kelaruta.
4. Dapat menentukan titik leleh duatu senyawa murni yanh diberikan sebagai sampel dengan melihat dan membaca suatu suhu yang timbul pada termometer hingga awal mula zat tersebut meleleh sampai tepat melelh seutuhnya. Perbandingan komposisi antar senyawa dipengaruhi oleh gaya molekul yang terkandung dalam sampel yaitu gaya tarik menarik.

    X. DAFTAR PUSTAKA
    http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70/

    Mukarimah. 2013. Ekstraksi Senyawa Organik. Palembang Universitas Sriwijaya. Vol 09. No.01

    Ralph.2005. Kimia Organik edisi ketiga jilid 1. Jakarta : Erlangga.

    Tim Kimia Organik. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Organik. Jambi: Universitas Jambi.

    Permasalahan yang timbul dari praktikum yang telah dilakukan yaitu:
    1. Apa yang menyebabkan masing-masing senyawa berbeda titik lelehnya?
    2. Mengapa kita menggunakan minyak sebagai pemanasnya? Kenapa tidak alkohol dan lain sebagainya?
    3. Apa perbedaan yang didapatkan pada saat melakukan percobaan yaitu menyumbat mulut erlenmeyer dengan gabus (tertutup) dengan tidak menyumbat mulut erlenmeyer dengan gabus (terbuka)?
    Untuk vidio praktikum, klik link dibawah ini
    LAMPIRAN FOTO PRAKTIKUM


    Pada saat mengkalibrasi termometer


    Saat mengukur titik leleh betha-nafthol murni
    Saat mengukur titik leleh senyawa campuran betha-nafthol dan asam benzoat 1:1
    Saat mengukur titik leleh senyawa campuran betha-nafthol dan asam benzoat 1:3

    Saat mengukur titik leleh senyawa campuran betha-nafthol dan asam benzoat 3:1