LAPORAN 2 PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK I
DISUSUN OLEH:
FITRIANTY
(A1C118032)
(A1C118032)
DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
Untuk prosedur dapat dilihat pada link dibawah ini :
https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=91829592704294925#editor/target=post;postID=3342648615100103665;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=1;src=postname
VII. DATA PENGAMATAN
7.1 Kalibrasi Termometer
NO.
|
PERLAKUAN
|
HASIL
|
1.
|
Dimasukkan termometer kedalam labu erlemeyer yang telah diisi dengan air dan batu es serta disumbat dengan penyumbat agar terisolasi dari udara luar.
|
Setelah air dan bumbu es bercampur, ternyata es mencair, dan larutan volume tersebut menjadi 130 mL dengan suhu tepat pada 0°C.
|
2.
|
Dimasukkan termometer kedalam labu erlenmeyer yang diisi aquades serta disumbat dan dilakukan pemanasan.
|
Setelah dipanaskan, air mendidih pada suhu 92°C . Kemudian suhu air ini konstan pada 99°C.
|
7.2 Penentuan Titik leleh
No.
|
Nama senyawa
|
Pelarut
|
Suhu tepat meleleh (oC)
|
Suhu meleleh seluruhnya (oC)
| ||
Manual
|
MPA
|
Manual
|
MPA
| |||
1.
|
Betha-naftol
|
Minyak
|
105°C
|
115°C
| ||
2.
|
Naftalen
|
Minyak
|
78°C
|
85°C
|
84°C
|
100°C
|
3.
|
Glukosa
|
Minyak
|
120°C
|
162,72°C
|
140°C
|
180°C
|
4.
|
Asam benzoat
|
Minyak
|
98°C
|
115°C
|
150°C
|
120°C
|
5.
|
Maltosa
|
Minyak
|
105°C
|
107°C
|
102°C
| |
7.3 Penentuan Titik Leleh Senyawa campuran
No.
|
campuran
|
Perbandingan 1:1
|
Perbandingan 1:3
|
Perbandingan 3:1
| |||
tepat
|
semua
|
tepat
|
semua
|
tepat
|
semua
| ||
1.
|
Naftalen : Glukosa
| 100°C | 148°C | 148°C | 155°C | 130°C | 146°C |
2.
|
Glukosa : Betha-naftol
| 130°C | 140°C | 146°C | 150°C | 138°C | 149°C |
3.
|
Betha-naftol : asam benzoat
| 88°C | 92°C | 90°C | 103°C | 85°C | 120°C |
4.
|
asam benzoat : Maltosa
| 110°C | 120°C | 100°C | 155°C | 97°C | 135°C |
5.
|
Maltosa : Naftalen
| 120°C | 122°C | 110°C | 114°C | 113°C |
115°C
|
VIII. PEMBAHASAN
Pada kali ini praktikan melakukan percobaan tentang kalibrasi termometer dan penentuan titik leleh baik iti senyawa murni maupun senyawa campuran. Percobaan yang pertama kali dilakukan praktikan yaitu mengkalibrasi suatu termometer dengan tujuan pada saat pengukuran suhu nantinya meminimalisir kesalahan atau ketidakpastiannya. Setelah termometer terkalibrasi, barulah kita bisa menghitung titik leleh suatu senyawa baik itu senyawa murni maupun senyawa suatu campuran. Pada penentuan titik leleh kali ini, praktikan menggunakan bahan zat padat. Pada penentuan titik leelh zat padat ini nantinya akan terjadi perubahan wujud dari padat ke cair tergantung pada suhu yang dikehendaki. Tingkat kemurnian suatu zat tersebut dapat dijelaskan melalui awal mulanya zat padat tersebut meleleh sampai melelh seluruhnya. Suhu akan berbanding terbalik dengan tingkat kemurnian suatu zat dimana semakin tinggi suhu semakin rendah praktikan mendapatkan kemurnian zat, begitu juga selanjutnya semakin rendah suhu, maka semakin tinggi tingkat kelarutan yang didapat.
8.1 Kalibrasi Termometer
Alat yang digunakan untuk mengukur suhu baik panas, dingin, maupun ruangan dari suatu objek dalam bentuk cair, padat, dan gas disebut termometer. Termometer yang akan digunakan perlu diuji ketepatannya sebelum dipakai untuk menghitung derajat dingin, panas maulun ruangan dari suatu objek yang hendak diukur. Apapun yang diberikan oleh termometer tentang ketepatan serta keakuratannya hasil pengukuran suatu suhu objek sangat diperlukan dalam menindak lanjuti percobaan selanjutnya dalam penentuan titik leleh zat. Maka dari itu kita harus memperhatikan betul cara dan taktis yang digunakan dalam mengkalibrasi termometer dan harus menentukan apakah termometer tersebut masih bisa digunakan atau tidak serta menghindari kerusakan pada saat menggunakan termometer tersebut.
Pengkalibrasian termometer ini bertujuan untuk menetapkan batas atas dan bawah suatu termometer. Pada percobaan ini, untuk menetapkan batas atas menggunakan air yang dipanaskan pada pemanas hingga tepat mendidih. Pada saat menghitung suhu, mulut erlenmeyer disumbat agar tidak adanya proses keluar masuk suhu dan terisolasi ketika melakukan kalibrasi. Kemudian dimasukkan termometer tepat 1 cm diatas permukaan air. Dari percobaan yang telah saya lakukan didapat bahwa, awal mulanya air mendidih yaitu pada suhu 92°C hingga tepat konstan 99°C. Air yang semakin panas, maka panjang kolom air raksa pun bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa pengkalibrasian termometer batas atas terlaksana dengan baik. Selanjutkan pengkalibrasian skala batas bawah termometer dengan mencampurkan air dan es batu didalam erlenmeyer, lalu disumbat mulut erlenmeyer guna tidak terjadinya pertukaran udara dari luar. Dari percobaan yang dilakukan, didapat bahwa hasil skala bawah yaitu 0°C dengan awal mula volume air 100 mL berubah mendi 130 mL karena es batu tersebut mencair. Jadi dapat disimpulkan bahwa batas atas termometer yang digunakan praktikan adalah 100°C sedangkan batas bawah 0°C. Hal ini membuktikan bahwa praktikan melaksanakan pengkalibrasian termometer secara benar.
Pengkalibrasian termometer ini bertujuan untuk menetapkan batas atas dan bawah suatu termometer. Pada percobaan ini, untuk menetapkan batas atas menggunakan air yang dipanaskan pada pemanas hingga tepat mendidih. Pada saat menghitung suhu, mulut erlenmeyer disumbat agar tidak adanya proses keluar masuk suhu dan terisolasi ketika melakukan kalibrasi. Kemudian dimasukkan termometer tepat 1 cm diatas permukaan air. Dari percobaan yang telah saya lakukan didapat bahwa, awal mulanya air mendidih yaitu pada suhu 92°C hingga tepat konstan 99°C. Air yang semakin panas, maka panjang kolom air raksa pun bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa pengkalibrasian termometer batas atas terlaksana dengan baik. Selanjutkan pengkalibrasian skala batas bawah termometer dengan mencampurkan air dan es batu didalam erlenmeyer, lalu disumbat mulut erlenmeyer guna tidak terjadinya pertukaran udara dari luar. Dari percobaan yang dilakukan, didapat bahwa hasil skala bawah yaitu 0°C dengan awal mula volume air 100 mL berubah mendi 130 mL karena es batu tersebut mencair. Jadi dapat disimpulkan bahwa batas atas termometer yang digunakan praktikan adalah 100°C sedangkan batas bawah 0°C. Hal ini membuktikan bahwa praktikan melaksanakan pengkalibrasian termometer secara benar.
8.2 Penentuan Titik Leleh
Pada suhu tertentu dengan berubahnya fasa padat menjadi uap menggambarkan adanya titik leleh suatu zat tertentu. Untuk mengetahui tingkat kemurnian suatu zat, diperlukannya perubahan suhu pada awal mula zat tersebut meleleh hingga tepat seluruhnya meleleh. Suhu dan tingkat kelarutan pada titik leleh ini berbanding terbalik, dimana semakin tinggi suhu semakin rendah tingkat kemurnian yang didapat. Begitu juga sebaliknya. Pada praktikum ini, praktikan dapat melakukan percobaa. Dengan mencampurkan dan dua bahan padatan dan perbandingan yang berbeda-beda. Pada tahap ini, praktikan harus mencari apa saja faktor-faktor pendukung yang menyebabkan terjadinya perubahan wujud suatu zat dan dapat mengetahui apa saja yang dapat mempercepat atau memperlambat terjadinya suatu perubahan.
Pada suhu tertentu dengan berubahnya fasa padat menjadi uap menggambarkan adanya titik leleh suatu zat tertentu. Untuk mengetahui tingkat kemurnian suatu zat, diperlukannya perubahan suhu pada awal mula zat tersebut meleleh hingga tepat seluruhnya meleleh. Suhu dan tingkat kelarutan pada titik leleh ini berbanding terbalik, dimana semakin tinggi suhu semakin rendah tingkat kemurnian yang didapat. Begitu juga sebaliknya. Pada praktikum ini, praktikan dapat melakukan percobaa. Dengan mencampurkan dan dua bahan padatan dan perbandingan yang berbeda-beda. Pada tahap ini, praktikan harus mencari apa saja faktor-faktor pendukung yang menyebabkan terjadinya perubahan wujud suatu zat dan dapat mengetahui apa saja yang dapat mempercepat atau memperlambat terjadinya suatu perubahan.
http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70/
Dari paparan diatas, kita dapat mencoba mencampurkan suatu zat padat dengan zat padat lainnya dengan perbandingan yang bermacam pula. Dengan ini kita dapat mengetahui faktor apa saja yang dapat mempengaruhi perubahan wujud dari padat ke cair.
Pada percobaan yang telah dilaksanakan sesuai prosedur yang ada, praktikan menggunakan 5 sampel dimana: betha-nafthol, naftalen, asam benzoat, glukosa dan maltosa. Untuk menentukan titik leleh kelima sampel ini, dibutuhkan termometer yang telah dikalibrasi. Kemudian masing-masing sampel dimasukkan kedalam pipa kapiler, diikat pada termometer dan dipanaskan pada minyak. Mengapa pemanasnya menggunakan minyak? Karena jika menggunakan air, ada beberapa zat ataupun sampel yang akaan ditentukan titik lelehnya lebih besar dari air, sehingga akan sulit untuk mendeteksi titik leleh suatu sampel yang sebenarnya. Pada penentuan titik leleh ini dilakukan 2 percobaan dimana yang pertama itu menetapkan titik leleh suatu sampel murni dan yang kedua menetapkan titik leleh suatu campuran dengan cara dan prosedur yang sama. Untuk menetapkan titik leleh sampel murni itu sendiri dilakukan dengan dua cara yaitu secara manual dan MPA. Dari percobaan yang telah dilakukan, hasil yang didapat pada penetapan titik leleh betha-nafthol yang awal mula meleleh dihitung secara manual 105°C dan secara MPA 110°C dan tepat meleleh seluruhnya dihitung secara manu 115°C dan secara MPA 115°C. Untuk penetapan titik leleh naftalen dilakukan secara manual awal mulanya meleleh pada suhu 78°C dan secara MPA 85°C sedangkan tepat seluruhnya meleleh dihitung secara manual pada suhu 84 °C dan secara MPA 100°C. Pada glukosa awal mula meleleh dan diukur titik lelehnya secara manual dan MPA secara berurutan adalah 120°C dan 162,72°C serta tepat seluruhnya meleleh pada suhu 140°C dihitung secara manual dan 180°C dihitung secara MPA. Lalu, titik leleh asam benzoat didapat awal mulanya meleleh yang dihitung berdasarkan manual 98°C dan secara MPA 115°C dan tepat meleleh semuanya yang dihitung pada suhu 150°C secara manual dan 120°C secara MPA. Yang terakhir ini adalah sampel maltosa dimana suhu yang didapatkan tepat awal mulanya meleleh yang diukur secara manual yaitu 105°C dan secara MPA 98°C, sedangkan tepat meleleh seluruhnya itu dihitung secara manual 107°C dan secara MPA 107°C. Dari data yang didapat, mengapa hasil penentuan titik leleh secara manual dan MPA beda? Sebenarnya tidak berbeda, hanya saja dalam menghitung baik secara manual maupun secara MPA ada yang kurang teliti.
Selanjutnya penentuan titik leleh suatu senyawa campuran , dimana pada percobaan ini dilakukan 3 perbandingan yang berbeda-beda yaitu 1:1, 1:3, dan 3:1. Untuk campuran yang pertama yaitu naftalen dan glukosa. Pada perbandingan 1:1 campuran tepat melwlh pada suhu 100°C dan tepat melelh semuanya 148°C, pada perbandingan 1:3 awal mula campuran meleleh pada suhu 148°C dan tepat semua meleleh pada suhu 115°C, sedangkan perbandingan 3:1 didapat suhu awal meleleh 130°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 146°C. Pada campuran kedua yaitu glukosa dan betha-naftol, pada perbandingan 1:1 awal mula meleleh pada suhu 130°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 140°C, pada perbandingan 1:3 awal mula meleleh pada suhu 146°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 150°C, sedangkan pada perbandingan 3:1 awal mula meleleh pada suhu 138°C dan tepat seluruhnya 149°C. Selanjutnya pada campuran ketiga yaitu betha-naftol dan asam benzoat dimana pada perbandingan 1:1 awal mula meleleh pada suhu 88°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 92°C, pada perbandingan 1:3 awal mula melelh pada suhu 90°C danctepat seluruhnya meleleh pada suhu 103°C, sedangkan perbandingan 3:1 awal mula meleleh pada suhu 85°C dan 120°C. Campuran keempat yaitu asam benzoat dengan maltosa, dimana pada perbandingan 1:1 awal mula campuran meleleh yaitu pada suhu 110°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 115°C, sedangkan pada perbandingan 3:1 awal mula meleleh oada suhu 97°C dan tepat meleleh seluruhnya pada suhu 135°C. Campuran yang terakhir yaitu maltosa dengan naftalen dimana pada perbandingan 1:1 awal mula meleleh pada suhu 120°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 122°C, pada perbandingan 1:3 awal mula meleleh pada suhu 110°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 114°C sedangkan pada perbandinga 3:1 awal mulacampyran meleleh pada suhu 113°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 115°C.
Dari percobaan yang telah dilakukan, tujuan dibuatnya perbandingan suatu senyawa campuran yaitu, untuk melihat perbedaan senyawa perbandingan dengan dua zat padat dicampurkan dan mengubah-ubah perbandingan masing-masing zat tersebut.
Dari paparan diatas, kita dapat mencoba mencampurkan suatu zat padat dengan zat padat lainnya dengan perbandingan yang bermacam pula. Dengan ini kita dapat mengetahui faktor apa saja yang dapat mempengaruhi perubahan wujud dari padat ke cair.
Pada percobaan yang telah dilaksanakan sesuai prosedur yang ada, praktikan menggunakan 5 sampel dimana: betha-nafthol, naftalen, asam benzoat, glukosa dan maltosa. Untuk menentukan titik leleh kelima sampel ini, dibutuhkan termometer yang telah dikalibrasi. Kemudian masing-masing sampel dimasukkan kedalam pipa kapiler, diikat pada termometer dan dipanaskan pada minyak. Mengapa pemanasnya menggunakan minyak? Karena jika menggunakan air, ada beberapa zat ataupun sampel yang akaan ditentukan titik lelehnya lebih besar dari air, sehingga akan sulit untuk mendeteksi titik leleh suatu sampel yang sebenarnya. Pada penentuan titik leleh ini dilakukan 2 percobaan dimana yang pertama itu menetapkan titik leleh suatu sampel murni dan yang kedua menetapkan titik leleh suatu campuran dengan cara dan prosedur yang sama. Untuk menetapkan titik leleh sampel murni itu sendiri dilakukan dengan dua cara yaitu secara manual dan MPA. Dari percobaan yang telah dilakukan, hasil yang didapat pada penetapan titik leleh betha-nafthol yang awal mula meleleh dihitung secara manual 105°C dan secara MPA 110°C dan tepat meleleh seluruhnya dihitung secara manu 115°C dan secara MPA 115°C. Untuk penetapan titik leleh naftalen dilakukan secara manual awal mulanya meleleh pada suhu 78°C dan secara MPA 85°C sedangkan tepat seluruhnya meleleh dihitung secara manual pada suhu 84 °C dan secara MPA 100°C. Pada glukosa awal mula meleleh dan diukur titik lelehnya secara manual dan MPA secara berurutan adalah 120°C dan 162,72°C serta tepat seluruhnya meleleh pada suhu 140°C dihitung secara manual dan 180°C dihitung secara MPA. Lalu, titik leleh asam benzoat didapat awal mulanya meleleh yang dihitung berdasarkan manual 98°C dan secara MPA 115°C dan tepat meleleh semuanya yang dihitung pada suhu 150°C secara manual dan 120°C secara MPA. Yang terakhir ini adalah sampel maltosa dimana suhu yang didapatkan tepat awal mulanya meleleh yang diukur secara manual yaitu 105°C dan secara MPA 98°C, sedangkan tepat meleleh seluruhnya itu dihitung secara manual 107°C dan secara MPA 107°C. Dari data yang didapat, mengapa hasil penentuan titik leleh secara manual dan MPA beda? Sebenarnya tidak berbeda, hanya saja dalam menghitung baik secara manual maupun secara MPA ada yang kurang teliti.
Selanjutnya penentuan titik leleh suatu senyawa campuran , dimana pada percobaan ini dilakukan 3 perbandingan yang berbeda-beda yaitu 1:1, 1:3, dan 3:1. Untuk campuran yang pertama yaitu naftalen dan glukosa. Pada perbandingan 1:1 campuran tepat melwlh pada suhu 100°C dan tepat melelh semuanya 148°C, pada perbandingan 1:3 awal mula campuran meleleh pada suhu 148°C dan tepat semua meleleh pada suhu 115°C, sedangkan perbandingan 3:1 didapat suhu awal meleleh 130°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 146°C. Pada campuran kedua yaitu glukosa dan betha-naftol, pada perbandingan 1:1 awal mula meleleh pada suhu 130°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 140°C, pada perbandingan 1:3 awal mula meleleh pada suhu 146°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 150°C, sedangkan pada perbandingan 3:1 awal mula meleleh pada suhu 138°C dan tepat seluruhnya 149°C. Selanjutnya pada campuran ketiga yaitu betha-naftol dan asam benzoat dimana pada perbandingan 1:1 awal mula meleleh pada suhu 88°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 92°C, pada perbandingan 1:3 awal mula melelh pada suhu 90°C danctepat seluruhnya meleleh pada suhu 103°C, sedangkan perbandingan 3:1 awal mula meleleh pada suhu 85°C dan 120°C. Campuran keempat yaitu asam benzoat dengan maltosa, dimana pada perbandingan 1:1 awal mula campuran meleleh yaitu pada suhu 110°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 115°C, sedangkan pada perbandingan 3:1 awal mula meleleh oada suhu 97°C dan tepat meleleh seluruhnya pada suhu 135°C. Campuran yang terakhir yaitu maltosa dengan naftalen dimana pada perbandingan 1:1 awal mula meleleh pada suhu 120°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 122°C, pada perbandingan 1:3 awal mula meleleh pada suhu 110°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 114°C sedangkan pada perbandinga 3:1 awal mulacampyran meleleh pada suhu 113°C dan tepat seluruhnya meleleh pada suhu 115°C.
Dari percobaan yang telah dilakukan, tujuan dibuatnya perbandingan suatu senyawa campuran yaitu, untuk melihat perbedaan senyawa perbandingan dengan dua zat padat dicampurkan dan mengubah-ubah perbandingan masing-masing zat tersebut.
IX. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Adapun prinsip - prinsip dasar dalam penentuan titik leleh senyawa murni yaitu suhu. Dimana baik itu fasa padat maupun cair tersebut dalam keadaan setimbang dan pada tekanan 1 atm. Titik leleh akan bertambah dari atas kebawah pada golongan transisi dan juga bertambah dari kiri kekanan dalam satu periodik.2. Dengan melakukan kalibrasi termlmeter sebelum digunakan maka akan memberikan hasil yang akurat khusus nya pada penentuan titik leleh senyawa murni. Dalam mengkalibrasi termometer juga mendeteksi bahwa termometer dapat digunakan atau tidak dalam suatu percobaan. Dari percobaan yang telah dilakukan, diperoleh batas bawah termometer yaitu 0°C dengan menggunakan bumbu es. Sedangkan batas atas idari termometer ini adalah 99°C
3. Dapat membedakan titik leleh senyawa murni dan campuran yaitu dengan pada titik leleh murni akan terjadi ketidakteraturan penurunan titik leleh serta meluasnya reagen titik leleh tersebut. Pada tahap ino, semakin kecil suhu yang didapat semakin tinggi tingkat kemurnian suatu zat dan sebaliknya semakin tinggi suhu yang didapat semakin rendah pula kita menentukan tingkat kelaruta.
4. Dapat menentukan titik leleh duatu senyawa murni yanh diberikan sebagai sampel dengan melihat dan membaca suatu suhu yang timbul pada termometer hingga awal mula zat tersebut meleleh sampai tepat melelh seutuhnya. Perbandingan komposisi antar senyawa dipengaruhi oleh gaya molekul yang terkandung dalam sampel yaitu gaya tarik menarik.
X. DAFTAR PUSTAKA
http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70/Mukarimah. 2013. Ekstraksi Senyawa Organik. Palembang Universitas Sriwijaya. Vol 09. No.01
Ralph.2005. Kimia Organik edisi ketiga jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Tim Kimia Organik. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Organik. Jambi: Universitas Jambi.
Permasalahan yang timbul dari praktikum yang telah dilakukan yaitu:
- Apa yang menyebabkan masing-masing senyawa berbeda titik lelehnya?
- Mengapa kita menggunakan minyak sebagai pemanasnya? Kenapa tidak alkohol dan lain sebagainya?
- Apa perbedaan yang didapatkan pada saat melakukan percobaan yaitu menyumbat mulut erlenmeyer dengan gabus (tertutup) dengan tidak menyumbat mulut erlenmeyer dengan gabus (terbuka)?
Untuk vidio praktikum, klik link dibawah ini
LAMPIRAN FOTO PRAKTIKUM
Pada saat mengkalibrasi termometer
Saat mengukur titik leleh betha-nafthol murni
Saat mengukur titik leleh senyawa campuran betha-nafthol dan asam benzoat 1:1
Saat mengukur titik leleh senyawa campuran betha-nafthol dan asam benzoat 1:3
Saat mengukur titik leleh senyawa campuran betha-nafthol dan asam benzoat 3:1






Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusassalamu'alaikum wr.wb.
BalasHapussaya DARA KUMALASARI (A1C118038) akan mencoba menjawab no 2
minyak yang digunakan karena mudah didapatkan, tidak memerlukan biaya yang mahal serta yang paling penting adalah titik didih dari minyak tersebut tinggi sehingga dapat digunakan sebagai pemanas, karena jika titik didih suatu pemanas tidak lebih tinggi dari titik leleh sampel maka sampel tidak akan meleleh
Nama Sri Oktika Dhijah Gultom (A1C118085) akan menjawab pertanyaan nomor 1. Senyawa berbeda titik lelehnya karena perbedaan tersebut menggambarkan tingkat kemurnian zat itu sendiri baik saat akan mulai meleleh maupun hingga seluruhnya meleleh. Adanya zat pengotor serta ukuran kristal sendiri
BalasHapusSaya ryan willainto (A1C118019) akan menjawab pertanyaan nomor 3. Perbedaan nya akan ditemupan pada nilai termometer yang lebih rendah pada saat tidak menggunakan gabus.
BalasHapus