Selasa, 04 Februari 2020

LAPORAN 1 PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I

LAPORAN PRAKTIKUM  
KIMIA ORGANIK I 




DISUSUN OLEH:

FITRIANTY
 (A1C118032)

DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI   
2019

Untuk prosedur kerja dapat dilihat di link ini:
https://fitrianty901.blogspot.com/2020/01/jurnal-percobaan-1-praktikum-kimia.html?m=1

VII. DATA PENGAMATAN
7.1 Analisa Unsur
7.1.1 Karbon dan Hidrogen
No.
Prosedur
Hasil Pengamatan
1.
Dimasukkan 1-2 gr CuO kering dan dipanaskan
Terlihat kering dan tak terjadi perubahan.
2.
Ditambahkan gula (1/10 jumlah CuO)
Larutan bercampur dan meleleh
3.
Dialirkan pipa kedalam tabung yang berisi 10 ml (Ca(OH)2dipanaskan
Adanya uap dan gas yang timbul
7.1.2 Halogen 
a. Tes Beilstein
No.
Prosedur
Hasil Pengamatan
1.
Dipanaskan kawat tembaga, diginkan lalu tetesi kawat dengan dua tetes CCl4 (benzen), dan dipijarkan
Terjadi perubahan menjadi merah membara, setelah ditetesi n-heksan tidak terjadi perubahan, setelah dipijarkan berubah warna menjadi warna silver.

b. Tes CaO
No.
Prosedur
Hasil Pengamatan
1.
Dipanaskan CaO sampai suhu tinggi ditambahkan 2 tetes CCl4(benzen)
Adanya perubahan warna menjadi hitam
2.
Dididihkan lagi setelah dingin dengan 5-10 ml air suling dituang kedalam gelas kimia dan larutan dalam HNO3
Timbulnya bau yang menandakan adanya belerang

7.1.3 Metoda Leburan
a. Belerang
No.
Prosedur
Hasil Pengamatan
1.
Diasamkan 3 ml larutan larutan L (NAOH) dididihkan dan diperiksa gas yang dihasilkan dengan dengan kertas saring basah yang sudah ditetesi Pb-asetat 10%
Menimbulkan gelembung gas, mengeluarkan bau busuk, mengalami perubahan warna menjadi putih dengan bergumpal.
2.
Pada larutan L lainnya, ditambahkan 1-2 tetes Na-nitroprosida
Gumpalan berubah warna menjadi putih kecoklatan yang menandakan adanya unsur belerang dalam senyawa tersebut.

b. Nitrogen

No.
Prosedur
Hasil Pengamatan
1.
Ditambahkan larutan 3 mL larutan L dicampurkan dengan 5 tetes larutan FeSO4. Dicampurkan 1 tetes larutan FeCl2. Dicampurkan 5 tetes larutan KF 10%. Dicampurkan 1 mL larutan NaOH kemudian dipanaskan dan diasamkan dengan asam sulfat encer.
Terjadi perubahan warna menjadi hitam lalu kuning jernih kemudian terbentuk endapan yang berwarna biru pada dasar permukaan.



c. Halogen
No.
Prosedur
Hasil Pengamatan
1.
Diasamkan 3 ml NaOH dan HNO3 lalu dipanaskan
Adanya perubahan warna menjadi putih keruh.
2.
Ditambah AgNO3 lalu dididihkan
Timbul gas, bau yang busuk, dan terjadi perubahan warna menjadi kuning. Setelah dipanaskan ada endapan yang berwarna hitam kecoklatan 

7.2 Penentuan kelas kelarutan
1. Gula
No.
Jenis Pelarut
Hasil Pengamatan
1.
Kelarutan dalam air
Larut (+)
2.
Kelarutan dalam benzen
Tidak larut (-)
3.
Kelarutan dalam NaOH 10 %
Jernih (+)
4.
Kelarutan dalam NaHCO3 5%
Tidak ada gas (-)
5.
Kelarutan dalam HCl
Jernih (+)
6.
Kelarutan dalam H2SO4 pekat
Kuning kecoklatan (+)
7.
Kelarutan dalam H3PO4 pekat
Jernih (+)

2. Tepung
No.
Jenis Pelarut
Hasil Pengamatan
1.
Kelarutan dalam air
Tidak larut (-)
2.
Kelarutan dalam benzen
Tidak larut (-)
3.
Kelarutan dalam NaOH 10 %
Keruh (-)
4.
Kelarutan dalam NaHCO3 5%
Tidak ada gas (-)
5.
Kelarutan dalam HCl
Jernih (+)
6.
Kelarutan dalam H2SO4 pekat
Orange (+)
7.
Kelarutan dalam H3PO4 pekat
Jernih (+)

3. Garam
No.
Jenis Pelarut
Hasil Pengamatan
1.
Kelarutan dalam air
Larut (+)
2.
Kelarutan dalam benzen
Tidak larut (-)
3.
Kelarutan dalam NaOH 10 %
Keruh (-)
4.
Kelarutan dalam NaHCO3 5%
Tidak ada gas (-)
5.
Kelarutan dalam HCl
Jernih (+)
6.
Kelarutan dalam H2SO4 pekat
Tidak berwarna (-)
7.
Kelarutan dalam H3PO4 pekat
Jernih (+)

4. Putih telur
No.
Jenis Pelarut
Hasil Pengamatan
1.
Kelarutan dalam air
Tidak larut (-)
2.
Kelarutan dalam benzen
Larut (+)
3.
Kelarutan dalam NaOH 10 %
Keruh (-)
4.
Kelarutan dalam NaHCO3 5%
Ada gas (+)
5.
Kelarutan dalam HCl
Jernih (+)
6.
Kelarutan dalam H2SO4 pekat
Merah hati, panas (+) 
7.
Kelarutan dalam H3PO4 pekat
Jernih (+)

5. Minyak
No.
Jenis Pelarut
Hasil Pengamatan
1.
Kelarutan dalam air
Tidak larut (-)
2.
Kelarutan dalam benzen
Larut (+)
3.
Kelarutan dalam NaOH 10 %
 Keruh (+)
4.
Kelarutan dalam NaHCO3 5%
Tidak ada gas (-)
5.
Kelarutan dalam HCl
Jernih (+)
6.
Kelarutan dalam H2SO4 pekat
Orange (+)
7.
Kelarutan dalam H3PO4 pekat
Jernih (+)
VIII. Pembahasan

8.1. Analisa unsur
       Pada kali ini praktikan telah melakukan percobaan tentang analisa kualitatif senyawa organik dan kelas kelarutannya. Pada percobaan ini bertujuan untuk mengetahui prinsip dasar dalam analisa kualitatif pada kimia organik, dapat mengerti akan tahapan kerja analisa mulai dari unsur karbon, hidrogen, belerang, nitrogen, halogen dalam suatu senyawa organik dan penentuan kelasnya, serta dapat melakukan eksperimen beberapa senyawa unknowm untuk dianalisa. Keragaman unaur dalam senyawa penyusunnya dapat menentukan fungsi dan kereaktifan suatu zat dalam kehidupan makhluk hidup. Dengan mengetahui unsur penyusun senyawa akan dapat diestimasi rumus molekul dan empiris nya hingga dapat diprediksi unsur tersebut baik dalam senyawa polar ataupun tidak. Melalui perbedaan tingkat kelarutan pun juga bisa diprediksi ciri khas suatu unsur tersebut. Dengan ini kita dapat merancang eksperimen secara sendiri hingga memperoleh pemahaman dan pengetahuan yang luas.
http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/22/analisis-kualitatif-senyawa-organik/ )
        Lalu, kami memperoleh hasil yang didapat pada saat melakukan percobaan dengan menganalisis beberapa unsur yaitu, karbon, hidrogen, belerang, nitrogen dan halogen.

8.1.1. Karbon dan hidrogen
    Pada percobaan ini praktikan mendapatkan hasil berupa tidak terjadi perubahan ketika CuO dimasukkan kedalam cawan lalu kering hingga dipanaskan. Setelah ditambahkan gula larutan bercampur hingga meleleh, lalu dialirkan pipa kedalam tabung yang berisi Ca(OH)2. Pada tahap ini timbulnya asap dengan gas. Hal ini membuktikan bahwa unsur karbon dan hidrogen tersebut ada. Hal ini dapat kita liat pada tabung ada titik-titik uap menandakan adanya hidrogen dan timbulnya asap menandakan adanyan unsur karbon. Pada percobaan ini dapat juga disebut reaksi pembakaran karena menghasilkan karbon dioksida dan uap air.

3.1.2 halogen
   Dalam percobaan ini, akan dilakukan dua prosedur dimana uji beilstein dan uji CaO. Berikut adalah hasilnya 
A. Uji beilstein
      Suatu metode yang dilakukan untuk meneliti ada atau tidaknya unsur halogen dalam suatu senyawa tersebut yang ditandai dengan tes nyala warna yang dihasilkan ini disebut uji beilstein. Pada percobaan ini, praktikan menggunakan kawat tembaga yang dipanaskan diatas bunsen hingga terjadi perubahan warna yaitu merah membara. Setelah ditetesi CCl4 tidak terjadi perubahan, kemudian kembali dipijarkan berubah menjadi silver. Hal ini membuktikan bahwa fungsi meneteskan CCl4 ini membuktikan bahwa ada atau tidaknya unsur halogen dalam kawat tembaga tersebut. 
B. Uji CaO
    Pada perlakuan ini berbeda dengan uji beilstein, dimana praktikan menggunakan tabung reaksi yang diisi dengan CaO lalu dipanaskan pada bunsen hingga bersuhu tinggi. Pada saat pemanasab terjadi perubahan warna yang signifikan berwarna coklat. Kemudian, dididihkan kembali hingga timbul bau yang menandakan adanya belerang dalam sampel tersebut. 

8.1.3. Metoda leburan dengan natrium
    Pada percobaan ini todak dilakukan karena ketercukupan bahan dan lat yang akan digunakan. Sehingga menurut literatur yang praktikan baca percobaan ini bermaksud untuk mendeteksi unsur senyawa organik. Kemudian dilakukan pemanasan dengan ditandainya muncul warna merah membara. Adapun hadil dari percobaan yang telah dilakukan adalaha :
A. Belerang
    Pada percobaan ini, larutan L diasamkan terlebih dahulu, kemudian dipanaskan lalu diperiksa ada atau tidak gas yang timbul dengan kertas saring yang basah yang telah ditetesi Pb-asetat. Pada tahap ini ternyata timbul gelembung gas, terjadi perubahan warna yang putih bergumpal serta mengeluarkan bau busuk.lalu, setelah ditetesi larutan Na-nitroprosida, gumpalan tersebut berubah warna jadi putih kecoklatan. Hal ini menunjukkan bahwa adanya unsur belerang dalam senyawa L tersebut.
B. Nitrogen
    Pada percobaan kali ini, tabung yang telah berisi larutan L ditambah  5 tetes FeSO4. Setelah tercampur ditambah pula FeCl2 dan KF 10 % serta NaOH. Lalu dipanaskan sampai mendidih dan disaring endapan FeS. Lalu asamkan larutan tersebut dengan asam sulfat encer. Pada perlakuan ini terjadi perubahan warna yang berulang- ulang kali dengan warna yang berbeda, dimana awalnya hitam dan berubah menjadi kuning jernih. Pada proses ini terbentuk endapan berwarna biru pada dasar permukaan tabung. Percobaan yang telah dilakukan ini setelah membaca beberapa sumber, ternyata hasilnya sama mendapatkan endapan berwarna merah. Hal ini menunjukkan bahwa percobaan ini berhasil.
C. Halogen
     Percobaan kali ini sama saja prosedurnya dengan percobaan sebelumnya demgan mwngasamkan larutan L terlebi: dahulu tetapi dengan asam yang berbeda yaitu asam HNO3 lalu dipanaskan. Pada tahap ini terjadi perubahan warna menjadi putih keruh. Kemudian ditambahkan kembali AgNO3 dan dididihkan kembali. Ternyata dengan penambahan AgNO3 timbul gas, mengeluarkan bau yang sangat busuk, dan terjadi perubahan warna. Setelah dipanaskan ternyata ada endapan yang terbentuk berwarna hitam kecoklatan.
8.2. Penentuan kelas pelarutan
     Pada percobaan ini menggunakan 5 senyawa. Pada senyawa organik terbagi 2 zat yaitu zat padat dan zat cair. Zat padat yang digunakan yaitu tepung,gula, dan garam. Sedangkan zat cair yang digunakan yaitu minyak dan putih telur. Pada percobaan ini digunakan 7 pelarut. Apa saja pelarut yang digunakan? Mari kita bahas satu persatu
8.2.1. Kelarutan dalam air
Pada percobaan ini, pada setiap tabung dimasukkan 5 senyawa tersebut, kemudian ditetesin 3 mL air lalu dikocok kuat-kuat. Dari percobaan yang telah dilakukan bahwa gula larut dalam air(+), tepung tidak larut dalam air (-), garam  larut dalam air (+), minyak  tidak larut dalam air (-), dan putih telur tidak larut dalam air(-). Pada pelarut ini dapat dibuktikan bahwa gula dan garam lebih tinggi tingkat kelarutannya didalam air dibandingkan senyawa lainnya.
8.2.2. Kelarutan dalam eter
   Pada percobaan ini, pada setiap tabung dimasukkan 5 senyawa tersebut, kemudian ditetesin 3 mL eter atau benzen lalu dikocok kuat-kuat. Dari percobaan yang telah dilakukan bahwa gula tidak larut dalam benzen(-), tepung tidak larut dalam benzen (-), garam tidak larut dalam benzen (-), minyak larut dalam benzen (+), dan putih telur larut dalam benzen(+). Pada pelarut ini dapat dibuktikan bahwa minyak dan putih telur lebih tinggi tingkat kelarutannya didalam eter dibandingkan ssnyawa lainnya.
8.2.3. Kelarutan dalam NaOH 5%
   Pada percobaan ini, pada setiap tabung dimasukkan 5 senyawa tersebut, kemudian ditetesin 3 mL NaOH lalu dikocok kuat-kuat. Dari percobaan yang telah dilakukan bahwa gula larut dalam NaOH atau jernih(+), tepung tidak larut dalam NaOH keruh (-), garam tidak larut dalam NaOH atau keruh (-), minyak tidak larut dalam NaOH atau keruh (-), dan putih telur tidak larut dalam NaOH(-). Pada pelarut ini dapat dibuktikan bahwa gula lebih tinggi tingkat kelarutannya didalam NaOH dibandingkan ssnyawa lainnya.
8.2.4. Kelarutan dalam NaHCO3 5%
     Pada percobaan ini, pada setiap tabung dimasukkan 5 senyawa tersebut, kemudian ditetesin 3 mL NaHCO3 lalu dikocok kuat-kuat. Dari percobaan yang telah dilakukan bahwa gula tidak ada gas yang timbul(-), tepung tidak ada gas yang timbul (-), garam tidak ada gas yang timbul (-), minyak tidak ada gas yang timbul (-), dan putih telur timbul gas(+). Padapercobaan ini dinyatakan bahwa putih telur mengandung unsur belerang.
8.2.5. Kelarutan dalam HCl
     Pada percobaan ini, pada setiap tabung dimasukkan 5 senyawa tersebut, kemudian ditetesin 3 mL HCl lalu dikocok kuat-kuat. Dari percobaan yang telah dilakukan bahwa gula larut dalam HCl atau jernih(+), tepung larut dalam HCl atau jernih (+), garam l larut dalam HCl atau jernih (+), minyak larut dalam HCl atau jernih (+), dan putih telur larut dalam HCl atau jernih (+). Pada pelarut ini dapat dibuktikan bahwapelarut ini dapat digunakan untuk melarutkan  5 senyawa yangctelah ditentukan.
8.2.6. Kelarutan dalam H2SO4
Pada percobaan ini, pada setiap tabung dimasukkan 5 senyawa tersebut, kemudian ditetesin 3 mL H2SO4 lalu dikocok kuat-kuat. Dari percobaan yang telah dilakukan bahwa gula berwana kuning kecoklatan(+), tepung berwarna orange (+), garam tidak berwarna (-), minyak berwarna orange (+), dan putih telur berwarna merah hati dan ada terasa panas(+). Pada pelarut ini dapat dibuktikan bahwagaram tidak dapat  bereaksi.
8.2.7. Kelarutan dalam H3PO4 pekat
     Pada percobaan ini, pada setiap tabung dimasukkan 5 senyawa tersebut, kemudian ditetesin 3 mL H3PO4 lalu dikocok kuat-kuat. Dari percobaan yang telah dilakukan bahwa gula larut dalam H3PO4 atau jernih(+), tepunglarut dalam H3PO4 (+), garam larut dalam H3PO4  atau jernih(+), minyak larut dalam H3PO4 atau jernih(+), dan putih telur larut dalam H3PO4 atau jernih(+). Pada pelarut ini dapat dibuktikan bahwa 5 swnyawa tersebut dapat dilarutkan
IX. Pertanyaan pasca
1. Apa yang terjadi jika kita menambahkan indikator KF 10% yang berlebih pada percobaan metoda leburan dengan natrium (nitrogen)?
2. Apa tujuan diasamkannya terlebih dahulu larutan L yang akan diperiksa (metoda leburan dengan natrium = belerang)?
3. Pada percobaan kelarutan dalam NaHCO3, mengapa hanya senyawa berupa telur saja yang menghasilkan gas CO2? Mengapa tidak pada senyawa lainnya seperti garam, tepung, minyak dan gula 
Berikut adalah sekilas video praktikum yang telah dilakukan :
https://youtu.be/LJDGSu9SfoE
X. Manfaat
       Dari percobaan yang telah dilakukan, praktikan dapat mengerti akan prinsip dasar dalam analisa kualitatif pada kimia organik, mengerti akan tahapan kerja analisa dengan unsur karbon, hidrogeb, belerang, nitrogen, halogen dalam suatu senyawa organik serta mengetahui penentuan kelas kelarutannya dan dapat mencoba beberapa senyawa unknown untuk dianalisa.
XI. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat saya ambil pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
1. Adapun prinsip dasar dari analisa kualitatif yaitu dengan mengidentifikasi struktur beberapa senyawa organik dengan mereaksikan beberapa senyawa dengan pelarutnya yang ditandai dengan perubahan warna, endapan, dan gas yang timbul setelah larutan dan senyawa bercampur.
2. Tahapan kerja yang dilakukan dalam mengidentifikasi senyawa organik dapat melalui tes nitrogen, belerang, halogen dan kelarutan dari masing-masing pelarutnya yang berbeda-beda dan prosedur kerjanya yang bermacam-macam pula.
3. Senyawa dapat ditentukan kelarutannya dengan sifat solute dan solvent nya, dimana sama sama memiliki sifat yang polar dan nonpolar akan mudah larut. Lain halnya dengan senyawa nonpolar akan larut dalam pelarut nonpolar. Sifat zat terlarut, temperatur, dan tekanan juga dapat mempengaruhi tingkat kelarutan.
XII. Daftar Pustaka
Achmad Hiskia. 2012. Analisis Kualitatif Konvensional. Jakarta:  PT. Citra       Aditya Bakti

Fahrizal, Dwi. 2014. Uji Analisis Kualitatif Zat-Zat Organik Yang Terdapat dalam Sayuran. Jurnal Ilmiah volume 3. Nomor 1


http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/22/analisis-kualitatif-senyawa-organik/ 

Pudjaatmaka,1986, Kimia Untuk Universitas Jilid II, Terjemahan dari COLLEGE OF                                   CHEMISTRY oleh Keenan, Erlangga, Jakarta.

Tim kimia organik I . 2019. Penuntun Praktikum Kimia Organik I. Jambi : Universitas Jambi

XIII. Lampiran
Pada saat mengasamkan kulit telur
Pada saat membakar tembaga hingga membara
Hasil kelarutan menggunakan pelarut benzen
Bahan yang digunakan untuk praktikum
Pada saat memanaskan CuO

3 komentar:

  1. Saya Sri Oktika Dhijah Gultom(A1C118085) akan menjawab pertanyaan nomor 2. Untuk melihat gas yang ditimbulkan dari larutan L. Asam asetat memiliki peran agar bau dari belerang pada larutan L dapat keluar

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
    Nama saya Valen Dwi Putri,
    Nim : A1C118050.
    Saya akan menjawab permasalahan nomer 3,Pada percobaan kelarutan dalam NaHCO3, mengapa hanya senyawa berupa telur saja yang menghasilkan gas CO2? Mengapa tidak pada senyawa lainnya seperti garam, tepung, minyak dan gula.
    Karna cangkang telur memiliki kandungan CaCO3 / zat kapur yang akan menjadi lunak dan mengapung serta menghasilkan CO2 apabila bereaksi dengan NaHCO3. Sedangkan garam, tepung, minyak dan gula tidak mengandung zat kapur

    BalasHapus
  3. Saya ulul azmi (A1C118068) akan menjawab pertanyaan no 1.yang terjadi jika kita menambahkan indikator KF 10% yang berlebih pada percobaan metoda leburan dengan natrium (nitrogen) akan menyebabkan kurangnya maksimal dalam hasil dari suatu percobaan tersebut dikarenakan komposisi yg tidak sesuai dengan prosedur jika digunakan dengan lebih banyak maka yg terjadi akan menimbul kan reaksi2 lain sehing mengganggu keberhasilan dalam perckbaan ini

    BalasHapus