Minggu, 26 April 2020

JURNAL 8 PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

JURNAL PRAKTIKUM  
KIMIA ORGANIK I




DISUSUN OLEH:

FITRIANTY
 (A1C118032)

DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI   
2020
  
PERCOBAAN 7



I.   JUDUL                     : Kromatografi Lapis Tipis dan Kolom
II.  HARI, TANGGAL : Rabu, 29 April 2020
III. TUJUAN                 :
      Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu : 
  1. Dapat menggunakan teknik-teknik dasar kromatografi lapis tipis dan kolom.
  2. Dapat membuat pelat kromatografi lapis tipis dan kolom.
  3. Dapat memisahkan suati senyawa dari campurannya dengan kromatografi lapis tipis dab memurnikannya dengan kolom.
  4. Dapat memisahkan pigmen tumbuhan dengan cara kromatografi kolom.
IV.  LANDASAN TEORI
Menurut Tim Kimia Organik l (2016), senyawa dari campuran dapat dipisahkan melalui teknik kromatografi yang digolongkan berdasarkan pendistribusian zat antara fase diam dan fase gerak. Dapat diketahui bahwa kromatografi ini merupakan senyawa yang tidak sama dengan koefisien yang berbeda diantara dua fase yang ada. Senyawa akan berinteraksi lemah terhadap fase diam yang lebi lama tinggal dalam fase gerak serta bergerak cepat dalam sistem kromatografi. Untuk setiap komponen dalam suatu campuran akan bergerak sesuai dengan kecepatannya dalam sistem kromatografi, hingga membentuk hasil yang sempurna.kromatografi daapat berfungsi untuk analisis kualitatif maupun kuantitatif. Pemisahan pada skala besar yang membentuk pemisahannya dapat digunakan lebih lanjut disebut preparatif.
    Suatu teknis analisis dalam kimia organik yang berfungsi untuk memisahkan campuran zat menjadi kompone-komponen hingga dapat dianalisis secara menyeluruh penyusunnya disebut kromatografi. Ada beberapa macam kromatografi, diantaranya : kromatografi lapis tipis, kromtografi cair, kromatografi gas, kromatografi penukar ion, dan kromatografi afinitas. Dengan berbagai macam kromatografi ini menggunakan prinsip yang sama.
(http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/04/10/325teknik-pemisahan-dengan-khromatografi/)
Menurut Handa (2009), pada tahun 1983 kromatografi lapis tipis muncul oleh Ismailoff dan Schaiber. Lempeng kaca berperan sebagai penunjang fase diam yang melapisi adsorben. Fase gerak akan menyerap selama fase diam  dan menghasilkan KLT yang dapat menganalisis fase gerak yang bagus untuk digunakan untuk kromatografi kolom. contoh fasa gerak yang dapat digunakan adalah n-heksana, kloroform, etil asetat dan n-butanol. Perbedaan antara kromatografi lapis tipis dan kromatografi kertas yaitu pada media pemisahannya yang dipakai lapisan tipis adsorben halus yang tersangga terhadap kaca, aluminium, maupun plastik jika kertas digantikan. yang bertindak sebagai fase dia disini adalah lapisan tipis adsorben.
Menurut Wahyuni (2004), kromatografi adalah pemisahan campuran senyawa dalam bentuk ekstrak dengan menggunakan waktu yang lebih ringkas. Kromatografi kolom ini merupakan fraksi-fraksi yang masih bercampur dan membentuk senyawa murni. Hasil yang diperoleh murni menggunakan kromatografi kolom, akan sulit didapatkan jika campurannya hanya sedikit sebab campuran akan tertinggal di fase diam.
Senyawa yang akan dipisahkan dapat larut dalam fasa gerak dimana harus berinterkasi terlebih dahulu dengan fasa diam. Dengan cara melarut dan teradsorpsi didalamnya yang bereaksi secara kimia. Pembawa sampe yang berinteraksi maupun tidak yang berwujud gas yang mudah menguap, dan cairan disebut fasa gerak. Proses pemisahan ini memiliki prinsip pada perbedaan zat yang menyusun suatu sampel yang dapat dianalisis kualitaitif maupun kuantitatif serta preparatif (Soebagio, 2000).




V. ALAT DAN BAHAN
     5.1 ALAT
Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu:
  
  • Pelat kaca kecil
  • Kain kering atau kertas
  • Oven pengering
  • Pita selotip
  • Batang pengaduk
  • Gelas piala 
  • Cawan petri
  • Tabung reaksi kecil
  • Dryer
  • Bejana pengembang
  • Pinsil
  • Lumpang
  • Pipet tetes
  • Gunting
  • Penjerap
  • Rotavor
     5.2 BAHAN
Adapun bahan yang diperlukan pada percobaan ini yaitu: 
  •   Air
  • Metanol
  • Suspensi silika gel
  • Asam asetat
  • Eter
  • Benzena
  • Kertas saring
  • Tablet yang mengandung kafein
  • Kristal iod
  • Petrolium eter
  • Na-Sulfat anhidrat
  • Daun
  • Glas wool
  • Suspensi selulosa
  • Suspensi kalsium karbonat
  • Suspensi sukrosa
  • Larutan sampel
  • aseton
VI. PROSEDUR KERJA
6.1 Kromatografi Lapis Tipis
  1. Penyiapan pelat
  •  Pelat kaca kecil dibersihkan dengan air dan etanol serta dengn lap kering dan dikeringkan dalam oven pengering.
  • Sebanyak 5 pelat disusun diatas kaca besar, kemudian direkatkan dengan pita selotip.
  • Dicampurkan 5 gr bahan dan 10 mL metanol dalam gelas piala
  • Disebarkan suspensi dan diratakan pada permukaan pelat dan kaca dengan batang pengaduk.
  • Dikeringkan pelat didalam oven 1200C  selama 10 menit.

2.  Penyiapan bejana 
  • Dibuat larutan pengembang dengan komposisi metano : asam asetat : eter : benzena (0,1 : 1 : 3 :5,9) pada gelas kimia.
  •  Dilapisi dinding gelas dengan kertas saring.
  • Ditutup gelas dengan cawan petri didalam bejana jenuhdengan pelarut pengembang.

3.  Penyiapan contoh 

  • Digerus 2 buah tablet yang mengandung kafein dan diekstraksi dengan 5 mL metanol.
  • Dimasukkan 50 mg kafein standar 1 mL metanol dalam tabung reaksi.
  • Cairan ekstrak obat dan larutan zat autentikdiambil menggunakan pipa kapiler, dibubuhkan diatas pelat TLC dengan jarak 1 cm satu sama lain dari tepi pelat kaca.
  •  Dikeringkan noda sampel dengan dryer, lalu dibubuhkan sampai 3-5 kali setiap kali dikerigkan, usahakan membentuk noda pekat yang kecil.

4.  Pengembangan
1. Dimasukkan pelat kedalam bejana pengembsng, dijaga agar noda senyawa tidak terendam dalam larutan pengembang.
2. Dibiarkan sampai garis dapat pelarut mencapai 1 cm dari tepi atas pelat.
3. Diangkat pelat dari bejana, ditandai garis depan pearut dengan pensil lunak, dan dikeringkan.
4. Dimasukkan pelat kedalam gelas kimia yang berisi butiran kristal iod, dan tunggu pelat menampakkan noda.
5. Diangkat pelat den ditandai noda
6. Dihitung dan dibandingkan semua Rf yang diperoleh.
 

6.2 Kromatografi Kolom
  1. Penyiapan sampel
  • 10 contoh daun dilumatkan dengan lumpang, direndam dengan campuran 90 mL PE, 10 mL benzene, dan 30 mL metanol selama 1 jam.
  • Disaring, diekstraksi dengan air 4 kali.
  • Dipisahkan lapisan organik, dikeringkan lapisan ini dengan Na-Tiosulfat anhidrat, lalu saring lagi.
  • Dipekatkan lapsan organik dengan bantuan rotavor sampai volume cairan tinggal beberapa mL.
2.  Penyiapan kolom
  • 10 contoh daun dilumatkan dengan lumpang, direndam dengan campuran 90 mL PE, 10 mL benzene, dan 30 mL metanol selama 1 jam.
  • Disaring, diekstraksi dengan air 4 kali.
  • Dipisahkan lapisan organik, dikeringkan lapisan ini dengan Na-Tiosulfat anhidrat, lalu saring lagi.
  • Dipekatkan lapsan organik dengan bantuan rotavor sampai volume cairan tinggal beberapa mL.
3.  Kromatografi
  • Dimasukkan sampel setinggi 1 cm, jika pencampuran sampel terlah mendekati penjerap, segera dibila bagian dalam kolom dengan pelarut PE : aseton (6 :1) dalam terus menerus.
  • Pemisahan akan terlihat dari pita berwarna., pita orange bergerak paling cepat, disusul pita hijau, pita kuning dan hijau.
  • Tetesan yang keluar ditampung dengan tabung reaksi dan dapat dipisahkan berdasarkan warnanya.
  • Dihentikan pemberian pelarut bila semua warna telah keluar dari kolom.
Vidio yang mencakup judul praktikum ini terdapat dalam linkm dibawah ini:

https://youtu.be/UmWMlKJAdSk
                      Dan
https://youtu.be/6Xk-OuK3hz8
Dari vidio didapat beberapa permasalahan yaitu:
  1. Dari video kedua yang dipaparkan, petunjuk penting apa yang digunakan secara kimia agar penentuan Rf pada percobaan yang dilakukan dengan sampel yang berbeda-beda sesuai dengan teori yang ada?
  2. Dari video pertama, sampel yang digunakan adalah silica, jika keterbatasan bahan dilaboratorium dengan tidak adanya tersedia silica, bahan apa yang akan anda gunakan? Jelaskan!
  3. Dari video pertama yang telah dipaparkan, jelaskan peran dan fungsi penambahan pasir secara kimia !

Selasa, 21 April 2020

JURNAL 7 PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I

                                                                                                                                             JURNAL PRAKTIKUM  

KIMIA ORGANIK I







DISUSUN OLEH:



FITRIANTY

 (A1C118032)



DOSEN PENGAMPU

Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI   

2020


PERCOBAAN 7





I.   JUDUL              : Pembuatan Sikloheksanon
II. HARI, TANGGAL  : Rabu, 22 April 2020
III.TUJUAN                :
    Adapun tujuan dari percobaan ini adalah:
  1. Dapat melakukan oksidasi alkohol sekunder alisiklik.
  2. Dapat memahami bahwa tidak hanya alkohol sekunder alifatis biasa saja yang dapat dioksidasi tetapi juga alkohol sekunder alifatik.

IV.  LANDASAN TEORI
Menurut Tim Kimia Organik I (2016), salah satu contoh oksidasi alkohol sekunder alisiklis menjadi keton alisiklis dengan oksidator kalium dikromat pada suasana asam itu adalah pembuatan sikloheksanon.
Tingkat oksidasi C dalam sikloheksanol adalah 0, beda dengan sikloheksanon adalah +2. Pembuatan sikloheksanon diawali dengan tahap oksidasi dengan mengeliminasi alkil ester asam kromatnya pada suhu 55-60°C  yang berdasarkan sifat fisiknya.
Rekasi eliminasi, reaksi substitusi, reaksi oksidasi, dan reaksi esterifikasi merupakan reaksi-reaksi yang terjadi dalam alkohol. Untuk membedakan antara alkohol primer, sekunder dan tersier dapat digunakan reaksi oksidasi, dimana alkohol primer dapat mengalami oksidasi menjadi aldehid dan asam karboksilat, alkohol sekunder dapat mengalami oksidasi menjadi keton, dan alkohol tersier tidak mengalami oksidasi (Fessenden, 1982).
Alkohol primer dan sekunder dapat mengalami oksidasi dengan asam kromat atau dapat juga denga kalium kalium permanganat. Dikarenakan asam kromat yang tidak stabil, hingga dibuat seperlunya. Sedangkan kalium dikromat merupakan suatu oksidator yang kuat. Pengoksidasian alkohol dalam suasana asam, misalnya alkohol primer dioksidasi menjadi asam karboksilat dan alkohol sekunder dioksidasi menjadi keton. Krom yang tidak stabil mengalami reduksi yang awalnta +6 menjadi +4 hingga +3(Nurlita, 2014).
Reaksi redoks dengan kegiatan mentransfer hidrogen dan oksigen ada pada reaksi-reaksi senyawa organik. Bertambahnya atom O pada suatu senyawa ataupun berkurangnya atom H pada senyawa berarti senyawa tersebut mengalami oksidasi. Sebaliknya, jika atom O berkurang atau atom H bertambah pada suatu senyawa, berarti senyawa tersebut mengalami reaksi reduksi (Frieda, 2000).

V. ALAT DAN BAHAN
     5.1 ALAT
       Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  1. Gelas kimia
  2. Erlenmeyer
  3. Labu bundar
  4. Alat destilasi
  5. Corong
  6. Penangas udara
     5.2 BAHAN
       Adapun bahan yang diperlukan pada percobaan ini yaitu:
  1. Kalium dikromat
  2. Asam sulfat pekat
  3. Sikloheksanol
  4. Petrolium eter
  5. Magnesium sulfat anhidrat
VI. PROSEDUR KERJA
  • Dilarutkan 20,5 gr kalium dikromatpada 100 mL air dalam gelas kimia, kemudian ditambah 18 gr asam sulfat pekat, dan didinginkan campuran pada suhu 30 derajat celcius.
  • dimasukkan 10 gr sikloheksanol pada erlenmeyer ditambah lartutan dikromat sedikit demi sedikit kemudian digoncang hongga tercampur dengan baik dan diamati suhu campuran.
  • apabila suhu campuran 55 derajat celcius, didinginkan dengan air dingin, diatur pendinginan agar suhu tidak melebihi 60 derajat celcius, dan didinginkan diudara selama setengah jam, sambil sekali-kali digoncang.
  • dipindahkan campuran reaksi kdalam labu bundar, ditambah 100 mL air, dipasang pendingin untuk destilasi hingga diperoleh 65 mL destilat yang tediri dari 2 lapisan (lapisan air dan sikloheksanol).
  • dijenuhkan dengan garam NaCl sebanyak 13 gr, kemudian pisahkan lapisan atas (sikloheksanon).
  • lapisan air diekstraksi dengan 3 gr magnesium sulfat anhidrat.
  • disaring larutan kering pada destilasi kecil, dikeluarkan pelarutnya dengan cara destilasi diatas penangas air.
  • residu sikloheksanon didestilasi diatas penangas udara, dikumpulkan fraksi didih 154-156 derajat celcius.
  • ditentukan indeks biasnya dan dihitung rendemen praktis dan rendemen teoritis.
Vidio yang mencakup judul praktikum ini terdapat dalam linkm dibawah ini:
https://youtu.be/mvm09Ssi8O4

Dari vidio didapat beberapa permasalahan yaitu:

  1. Dari video yang telah dipaparkan, pada pembuatan sikloheksanon, jelaskan reaksi apa saja yang terjadi?
  2. Pada pembuatan sikloheksanon yang dijelaskan pada video tersebut, jelaskan apakah pada reaksi tersebut menggunakan katalisator? Jika iya, jelaskan perannya
  3. Dari video tersebut, jelaskan tujuannya campuran didestilasi?

Senin, 13 April 2020

JURNAL 6 PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I

                                                                                                                                             JURNAL PRAKTIKUM  

KIMIA ORGANIK I







DISUSUN OLEH:



FITRIANTY

 (A1C118032)



DOSEN PENGAMPU

Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI   
2020


PERCOBAAN 6



I.   JUDUL                  : Reaksi - Reaksi Alkohol                                          dan Fenol 
II. HARI, TANGGAL   :Rabu, 15 April 2020
III.TUJUAN                :
    Adapun tujuan dari percobaan ini adalah:
  1. Dapat memebedakan sifat-sifat antara alkohol dan fenol.
  2. Dapat mengetahui jenis-jenis reaksi dan pereaksi yang digunakan untuk membedakan antara senyawa-senyawa alkohol dan fenol.
  3. Dapat mengetahui azas-azas dari reaksi alkohol dan fenoL.
IV.  LANDASAN TEORI
Menurut Tim Kimia Organik I (2016), fenol dan alkohol memiliki keasaman yang berbeda dan dapat berubah jika bereaksi dengan larutan basah membentuk garam natrium yang larut dalam air pada umumnya. Untuk membentuk alkoksida, maka atom H yang berasal dari gugus hidroksil baik pada alkohol maupun fenol ini dapat digantikan dengan Na. Pada reaksi ini, alkoksida dpat digunakan untuk katalis dalam berbagai reaksi organik. Perbedaan alkohol primer, sekunder, dan tersier dapat dilihat jika alkohol ini direaksikan oleh asam kromat, dimana alkohol tersier tidak dapat dioksidasi oleh asam kromat, sedangkan alkohol primer dan sekunder dapat dioksidasi oleh asam kromat. alkohol dan fenol juga dapat direaksikan dengan asam yang menghasilkan ester yang bercirikan aroma yang segar.
Menurut  Suminar (2013), alkohol dapat dikatakan sebagai isomer fungsional dimana terdapat molekul yang sama akan tetapi gugus fungsional yang berbeda. Alkohol juga dapat mengubah bentuk polarisasi cahaya seperti pada alkohol yang terdapat cahaya atom karbon asimetrik. atom ini memiliki 4 gugus yang berbeda dan berkaitan satu sama lain. Dalam kehidupan sehari-hari, alkohol berguna sebagai bahan bakar, apat mematikan kuman-kuman serta di bidang pendidikan seperti dilaboratrium sering digunakan sebagai pelarut maupun reagen. Panjang pendeknya gugus alki, banyaknya cabang, dan gugus hidrogen yang terikat pada atom karbon pada alkohol mempengaruhi kereaktifan alkohol.  
Senyawa yang dianggap penting dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-har adalah alkohol dan fenol. Alkohol dapat dioksidasi membentuk turunan aldehid, keton, eter, ester, dan asam karboksilat. Melalui reaksi substitusi oleh senyawa halogen, alkohol dapat menghasilkan senyawa turuna alkil halida, dan jika direaksikan oleh logamalkali menghasilkan gran alkoksida. Untuk membentuk senyawa tak jenuh juga didapat melalui dehidrasi alkohol.(http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/28/reaksi-alkohol-dan-fenol298/ )
Menurut Sahidin (2011), senyawa yang memiliki sifat hampir mirip dengan air yang membentuk ikatan hidrogen antar molekulnya disebut alkohol. ikatan hidrogen pada alkohol mempengaruhi suatu titik didih yang menyebabkan titik didih alkohol lebih tinggi jika dibandingkan dengan titik alkil halida ataupun eter padahal sama-sama mempunyai berat bobot yang sama. Selain titik titik didih, ternyata ikatan hidrogen mempengaruhi kelarutan alkohol dalam air hingga massa alkohol dalam air lebih kecil dari yang seharusnya.
Menurut Pasca (2011), dengan adanya gugus OH pada alkohol dan fenol menyebabkan adanya ikatan hidrogen pada molekul dan senyawa lain seperti air hingga kelarutan pada senyawa ini dapat dikatan rendah. dalam keseharian kita, banyak orang beranggapan bahwa alkohol itu terdapat pada minuman keras, dimana alkohol yang terkandung pada minuman ini adalah etil alkohol. sedangkan pada senyawa fenol jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
V. ALAT DAN BAHAN
     5.1 ALAT
       Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
  1. Tabung Reaksi
  2. Pipet Tetes
  3. Batang Pengaduk
  4. Timbangan
  5. Pemanas
  6. Kasa
  7. Gelas Kimia
     5.2 BAHAN
       Adapun bahan yang diperlukan pada percobaan ini yaitu:
  1. Etanol
  2. 2-Propanol
  3. Sek-butil Alkohol
  4. Sikloheksanol
  5. Fenol
  6. Kolestrol
  7. 2-Naffal
  8. Indikator PP
  9. Aseton
  10. Asam Sulfat Pekat
  11. Asam Asetat Glassial
  12. Larutan FeCl2 10%
  13. 1-Propanol
  14. n-butil Alkohol
  15. Ter Butil Alkohol
  16. Etilen Glikal
  17. Resorsinal
  18. O-Kresol
  19. NaOH
  20. Reagent Lucas
  21. Reagent Bordwell
  22. Willman
  23. Larutan Brom
  24. Trifenil Karbinal
VI. PROSEDUR KERJA
6.1. Kelarutan
  • dimasukkan kedalam 6 tabung reaksi 0,2-0,5 gr dari senyawa : etanol, n-butil alkohol, ter-butil alkohol, sikloheksanol, etilen glikol, dan fenol.
  • ditambah 2 mL kedalam setiap tabung.
  • diaduk, diamati, dan dicatat hasil pengamatan.
6.2. Reaksi Dengan Alkali
  • dimasukkan kedalam 4 tabung reaksi 0,2-0,5 gr dari senyawa :  n-butil alkohol, sikloheksanol, fenol, dan 2-naftol.
  • ditambah 5 mL NaOH 10% kedalam tiap tabung.
  • dikocok, diamati, dan dicatat hasilnya.
6.3. Reaksi Dengan Natrium
  • ditempatkan 2 mL pada tabung reaksi kering berlainan : 1-propanol, 2-propanol, dan o-kresnol.
  • ditambah sepotong logam Na kedalam tabung reaksi, dicatat hasilnya.
  • ditambah indikator pp pada larutan dan dicatat haslnya.
  • ditambah etanol secukupnya untuk menghilangkan semua natrium yang belum bereaksi, kemudian dibuang.
6.4. Pengujian Lucas
  • dimasukkan 2 mL reagen Lucas kedalam 4 tabung reaksi.
  • ditambah 5 tetesalkohol yang akan diuji ( 1-butanol, 2-butanol, sikloheksanol,  dan ter-butil alkohol).
  • dikocok dan dicatat waktunya hingga campuran menjadi keruh tau memisah menjadi 2 lapisan.
Larutan Reagent Lucas : dilarutkan 340 gr ZnClkering kedalam 230 HCl pekat                                                  yang dingin sambil didinginkan.
6.5. Oksidasi Dengan Asam Kromat (Pengujian Bordwell-Wellman)
  • dimasukkan 1 mL aseton kedalam 5 tabung reaksi.
  • masing-masing tabung ditambah 1 tetes cairan alkohol yang hendak diuji (2-butanol, tr-butil alkohol, kolesterol, dan trifenil karbinol).
  • digoncang hingga larutan jernih.
  • ditambah 1 tetes reagent Bordwell-wellman sambil digoncang.
Larutan Reagent Bordwell-Wellman : dilarutkan 25 gr anhidrat kromatid dalam                                                                      25 asam sulfat pekat, kemudian diencerkan                                                                     dengan 75 mL air suling
6.6. Reaksi Fenol Dengan Brom
  • kedalam tabung reaksi yang berisi larutan fenol 0,1 gr fenol didalam 3 mL air ditambahkan air brom sambil digoncang hingga warna kuning tak berubah lagi. 
6.7. Reaksi Fenol Dengan Besi (III) Klorida
  • kedalam 3 tabung reaksi dilarutkan 1 tau 2 kristal yang akan diuji (fenol, resorsinol, dan 2-propanol) dalam 5 mL air.
  • tiap tabung ditetesi 1-2 tetes besi (lll) klorida.
  • diaduk dan diamati hasilnya.
Vidio yang mencakup judul praktikum ini terdapat dalam linkm dibawah ini:
https://youtu.be/xotWCss9bVI

Dari vidio didapat beberapa permasalahan yaitu:

  1. Dari video yang telah dipaparkan, reaksi apa yang terjdi jika suatu senyawa alkohol di tambah dengan RCOOH?
  2. Untuk mendapatkan hasil ester, pereaksi apa saja yang digunakan jika reagennya adalah alkohol?
  3. Faktor apa yang menyebabkan pada uji iodoform terdapat 2 lapisan pada campuran?

Selasa, 17 Maret 2020

JURNAL 5 PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I

JURNAL PRAKTIKUM  
KIMIA ORGANIK I




DISUSUN OLEH:

FITRIANTY
 (A1C118032)

DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI   
2020
   
PERCOBAAN 5
JUDUL                :Reaksi-Reaksi Aldehida dan Keton
HARI, TANGGAL   : Rabu, 18 Maret 2020
TUJUAN                  :
     Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu:

  1. dapat memahami azas-azas senyawa karbonil.
  2. dapat memahami perbedaan reaksi antara aldehid dan keton.
  3. dapat menjelaskan jenis-jenis pengujian kimia sederhana ang dapat membedakan aldehid dan keton.
IV.  LANDASAN TEORI
       Untuk senyawa aldehid dan keton itu sendiri adalah molekul yang polar dikarenakan mempunyai ikatan karbonil yang menyatakan adanya momen dipol diantara ikatan rangkap pada atom C dan O. Dengan adanya momen dipol dari suatu senyawa menyebabkan suatu senyawa tersebut mmiliki titik didih yang tinggi jika dibandingkan dengan suatu senyawa alkena walaupun berat molekul yang dimiliki tersebut sama. Untuk lebih jelasnya lihat isopropanol yang memiliki momen dipol yang rendah akan tetap titik lebih tinggi jika dibandingkan dengan aseton.

      Untuk senyawa keton, aseton merupakan pelarut yang paling lazim digunakan, hal ini dikarenakan aseton ini dapat melarut dalam air dan pelarut organik.maka dari itu, aseton sering dikenal pelarut polar atau juga pelarut aprotik.(http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/20/reaksi-reaksi-aldehid-dan-keton198/)
    Menurut Tim Kimia Organik l (2016), persamaan aldehid dan keton yaitu memiliki gugus karbonil yaitu C=O. Oleh karenanya, pada umumnya reaksinya akan sama jika dilihat dari gugus karbonilnya. Secara teori, aldehid lebih sigap bereaksi jika dibandingkan dengan keton dengan menggunakan reagen yang sama. Mengapa demikian? Karena adanya pelindung dari atom karbon karbonil pada keton dibanding dengan aldehid. Pada praktikum kali ini, akan diselidiki baik itu persamaan maupun perbedaan dari reaksi aldehid dan keton.
Senyawa hidrokarbon yang memiliki ciri mudah terbakar dan narkotik ialah keton. Rumus umum dari senyawa keton ini adalah RCOR, dimana atom C berangkap dua dengan atom O. Senyawa keton ini umumnya bersifat polar yang bersifat mudah terbakar dan dimatikan oleh alkohol  maupun bisa yang bersifat polar. Air tidak bisa memadamkan senyawa keron jika terbakar, dikarenakan derajat kepolarannya yang kurang dari alkohol dan pelarut organik. Penamaan senyawa keton ini yang sesuai dengan IUPAC yaitu menggantikan akhiran a pada alkana menjadi non, sehingga menjadi alkanon ( Raton, 2013).
Menurut Wilbraham (2002), reaksi oksidasi dan reaksi reduksi merupakan reaksi reaksi hidrokarbon khususnya pada aldehid dan keton. Reaksi ini untuk membedakan apakah senyawa tersebut tergolong kedalam aldehid atau keton. Untuk senyawa aldehid sangat mudah teroksidasi beda dengan keton sebagai oksidator. Aldehid dapat teroksidasi oleh oksidator yang lemah pada umumnya, sedangkan untuk reaksi reduksi tergolong menjadi 3 diantara nya : alkohol,  pinakol dan hidrokarbon.
Menurut Petrucci (2006), gugus yang menempel pada karbonil ialah gugus karbon, yaitu keton. Apabila salah satu dari gugus tersebut adalah atom H, maka senyawa ini tergolong aldehid. Aldehid dapat dihasilkan oksida parsial alkohol. Oksida alkohol  sekunder dapat menghasilkan keton. Aldehid ialah senyawa organik yang didapat dari asam yang terbentuk bila senyawa dioksidan lebih lanjut. Untuk keton senyawa gugus karbonil yang terikat pada dua gugus radikal hidrokarbon. Aseton merupakan senyawa keton yang paling sederhana yang mudah terbakar, berbau, dan rasa yang khas yang digunakan sebagai pelarut dalam industri maupun laboratorium.
V. ALAT DAN BAHAN
     5.1 ALAT
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu:
  •  tabung reaksi
  • pipet tetes 
  • pengaduk
  • penangas
  • corong hirsch
  • tabung reaksi besar
  • termometer
  • erlenmeyer 50 mL
  • bunsen
  • labu
  • lemari es
  • corong buchner
     5.2 BAHAN
Adapun bahan yang diperlukan pada percobaan ini yaitu:
  •  etanol
  • aseton
  • benzaldehid
  • NaOH 5%
  • NaOH 5%
  • asetaldehid
  • iodium iodida
  • isopropanol
  • 2-pentanon
  • 3-pentanon
  • hidroksilamin HCl
  • natrium asetat trihidrat
  • air
  • siklohesanon
  • air es
  • 2,4-dinitrofenilhidrazin
  • fenilhidrazan
  • bahan yang akan diuji
  • NaHSO3 jenuh
  • HCl pekat
  • natrium sitrat
  • natrium karbonat
  • CuSO4.5H2O
  • fehling
  • natrium kalium tartrat
  • perak nitrat
  • amonium hidroksida 2%
VI.  PROSEDUR KERJA

6.1  Uji cermin kaca, Tollens

6.2  Uji fehling dan bennedict

6.3  Adisi bisulfit

6.4  Pengujian dengan Fenilhidrrazi

6.5  Pembuatan Oksim
6.6  Reaksi Haloform     
6.7  Kondensasi Aldol

Adapun vidio dari percobaan ini yaitu:
https://www.youtube.com/watch?v=X7ZJqLEhX9k
Permasalahan dari vidio diatas yaitu:
  1. Dari video yang telah disajikan, percobaan apa saja yang dilakukan untuk menguji suatu sampel yang mengandung aldehid?
  2. Mengapa pada saat penetesan NH4OH pada uji tollens terjadi perubahan warna?
  3. Mengapa pada uji fehling dan tollens campuran dipanaskan dalam penangas air?