Sabtu, 29 Februari 2020

LAPORAN 3 PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I

LAPORAN PRAKTIKUM  
KIMIA ORGANIK I 


DISUSUN OLEH:

FITRIANTY
 (A1C118032)

DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
 
 
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI   
2020




VII. DATA PENGAMATAN  

7.1 REKRISTALISASI
NO.
               PERLAKUAN
HASIL
1.
2 sudip asam benzoat + 1 sudip norit + 1 sudip glukosa lalu dilarutkan dalam air panas.
adanya gelembung-gelembung dan larutan berwarna hitam
2.
Dilakukan penyaringan dengan menggunakan corong Buchner
warna larutan berubah menjadi jernih
3.
Dijenuhkan dengan cara didinginkan didalam air es
terbentuk kristal yang mengkilap
4.
Disaring larutan yang sudah dijenuhkan, lalu dikeringkan

5.
Diuji titik lelehnya



7.2 SUBLIMASI
NO.
PERLAKUAN
HASIL
1.
Cawan penguap yang telah diisi 1 gram naftalen dan 1 gram pengotor (pasir) . Dipanaskan dan ditutupi pada bagian atas dengan menggunakan corong yang disumbat dengan kapas dan kertas saring diatas cawan tersebut, dipanaskan ±4 menit.
Terbentuknya kristal pada dinding corong, sedangkan pasir kasar dan airnya tetap pada cawan penguap sedangkan pasir yang halus nempel pada kertas saring.
2.
Diuji titik lelehnya.
meleleh pada saat suhu 84C
VIII. PEMBAHASAN
untuk memurnikan suatu zat padat dari campurannya diperlukan pendekatan serta teknik yang khusus. Mengenal maupun mengidentifikasi suatu senyawa yang dimurnikan dengan jalan mengetahui sifat-sifatnya baik kimia maupun fisiknya merupakan salah satu pendekatan praktisnya. Jika kita paham akan sifat-sifatnya akan mencapai keberhasilan dalam memisahkan zat padat terutama dalam suatu zat padat yang akan dimurnikan dalam pelarut. Sebagai praktikan juga perlu mengetahui bagaimana macam-macam pelarut organik serta gradienkepolarannya ketika anda ingin mencampurkan dua atau lebih jenis pelarut terutama pada suatu zat padat. Ada beragam jenis teknik dalam memurnikan zat padat seperti kristalisasi, sublimasi dan kromatografi. Tenknik ini digunakan sesuai dengan kompleksitas kemurnian zat padat tersebut beserta dengan sifat-sifatnya. Sebagai praktikan, harus mempelajari beberapa sumber tentang teknik yang digunakan dalam memurnikan zat padat. Jika anda berhasl memurnikan suatu zat padat, anda dapat menguji titik leleh zat padat tersebut dengan cara kromatografi lapis tipis. ( http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/07/pemurnian-zat-padat-organik93/ )
Percobaan kali ini setelah menalaah kesesuaian pada alat dan bahan yang ada serta pelarut yang digunakan untuk melarutkan suatu zat padatnya, akan dilakukan percobaan pemurnian zat padat menggunakan cara rekristalisasi dan sublimasi dengan memperoleh hasil sebagai berikut :
  8.1 REKRISTALISASI
   Pada praktikum kali ini, dilakukan percobaan rekristalisasi menggunakan bahan asam benzoat. Proses rekristalisasi ialah proses yang digunakan untuk memurnikan zat padat dengan melarutkan pada suatu pelarut tertentu dengan titik didihnya, lalu disaring pada keadaan panas agar dipisahkan zat padat tersuspensi dalam air. Prinsip dari rekristalisasi ini adalah senyawa tertentu dalam campuran akan memiliki kelarutan yang tertentu pula pada sistem tertentu. Pada percobaan ini, bahan yang digunakan adalah asam benzoat. Sebelu melakukan percobaan, praktikan harus menentukan terlebih dahulu pelarut yang digunakan yang dianggap sesuai. Dimana pelarut yang digunakan pada percobaan ini adalah air. Mengapa menggunakan pelarut air? karena kelarutan asam benzoat sangat kecil dalam air dengan menghasilkan suhu yang minim. Sebelum dilakukan pencampuran asam benzoat pada air, terlebih dahulu ditambahkan zat pengotor, karena asam benzoat yang digunakan tidaklah dalam keadaan murni. Zat pengotor yang digunakan adalah glukosa karena pelarut air mampu melarutkan glukosa yang memiliki suhu yang tinggi.
Asam benzoat dan glukosa akan larut sempurna dalam air panas dimana larutan tersebut berwarna hitam. Larutan berwarna hitam karena adanya penambahan norit dengan tujuan mempersingkat laju pemurnian. Penambahan norit ini tidak semua larut. Dengan adanya serbuk norit kemudia disaring filtratnya . Dimana warna larutan setelah disaring menjadi jernih. larutan akan mengkristal ketika asam benzoat larut dalam suhu yang tinggi dan sebaliknya ketika turun akan menyebabkan kelarutan asam benzoat pun turun. Maka dari itu, kelarutan suatu zat sangat bergantung pada suhu pelarut. sehingga terbentuk kristal pada dinding gelas kimia, lalu dilakukan pendinginan dengan cara memasukkannya dalam air dingin yang menghasilkan kristal lebih banyak lagi.  Kemudian kristal tersebut disaring dan dikeringkan menggunakan corong buchner lalu ditentukan titik lelehnya menggunakan pipa kapiler. penentuan titik leleh senyawa ini dilakukan dengan MPA dan termometer karena dianggap lebih akurat., sehingga titik leleh kristal asam benzoat adalah........Sedangkan pada literatur, titik leleh asam benzoat yaitu 119-121C.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil rekristalisasi dan penentuatitik leleh dari suatu zat murni yaitu teknikk praktikan ketika mencampurkan beberapa jenis zat dengan perbandingan yang tidak tepat serta proses penyaringan yang kurang  yang membuat zat pengotor lolos pada saat penyaringan yang akan mengganggu penentuan titik leleh. Hal yang menyebabkan titik leleh yang didapat berbeda dari literartur adalah pada saat penentuan titik leleh bisa saja sebelum menggunakan termometer, termometer tersebut belum dikalibrasi dengan semestinya. Tidak telitinya praktikan dalam proses pemurnian juga dapat mempengaruhi hasil rekristalisasi. Semakin murni zat yang dihasilkan setelah proses pencampuran dengan zat pengotor, semakin rendah sesuai titik leleh murninya. Hal ini disebabkan pada proses penyaringan dan pengeringan yang kurang teliti dimana kristal masih mengandung air. Kemurnian zat padat ini sangat diperlukan untuk melakukan pemisahan terhadap pengotornya.
  8.2 SUBLIMASI
Pada percobaan kali ini praktikan menggunakan bahan yang mengandung naftalen yaitu kapur barus yang telah di kotori (ditambah pasir). proses sublimasi ialah proses  yang digunakan untuk memurnikan zat padat dengan diuapkan tanpa melalui peleburan. Pada proses penyubliman, terjadi perubahan dimana perubahan zat padat menjai uap. Tahap sublimasi ini memiliki syarat yaitu campuran yang akan diamati memilii titik didih yang berbeda. Pada percobaan ini naftalen yang telah tercemar diletakkan diatas cawan penguap, lalu diutup dengan kertas saring yang telah diberi lubang-lubang kecil.orong disumbat dengan gelas wool dan diletakkan dengan posisi terbalik diatas kertas saring penutup cawan tersebut. Agar terjadinya penguapan, dipanaskan diatas api yang kecil hingga seluruh naftalen tersublimasi secara menyeluruh. proses sublimasi ini berhasil yang ditandi dengan kristal yang ada pada dinding corong, sedangkan zat pengotor yang halus menempel pada kertas saring dan pengotor yang kasar menetap dicawan penguap. Penyumbiman ini dilakukan pada suhu kamar. Kemudian kristal tersebut dipisahkan lalu diuji titik lelehnya  dengan memasukkan kristal tersebut kedalam pipa kapiler dan diuji menggunakan alat MPA. Kristal tersebut tepat meleleh pada suhu 84⁰C. Pemurnian zat padat ini menggunakan teknik sublimasi ini, naftalen yang tercemari dalam bentuk padatannya dapat menguap, dan uap tersebut menempel pada kaca corong yang kembali menjadi padat dalam bentuk kristal. Hal ini terjadi karena proses sublimasi terjadi perubahan padatan menjadi gas tanpa harus melewati fasa cair. 
IX. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :


  1. Rekristalisasi dan sublimasi ialah cara yang dapat digunakan untuk memurnikan zat organik.
  2. Pada proses rekristalisasi, jika menggunakan pelarut jumlahnya lebih sedikit dibanding dengan zat yang akan dimurnikan, agar zatyang dihasilkan dapat lebih banyak.
  3. Pada prinsip operasional rekristalisasi, perlu diatur kecepatan penurun suhunya. Ada beberapa proses operasional rekristalisasi, diantaranya :
    • Dengan pelarut yang telah ditentukan dari titik didihnya dapat melarutkan zat padat.
    • Dengan cara menurunkan suhu larutan secara perlahan, dapat dilakukan kristalisasi selektif dalam pelarut tertentu.
    • Penyaringan terhadap kristal murninya dipisahkan dari larutannya.
  4. Percobaan subtitusi naftalen dapat digantikan dengan kapur barus berwarna karena kapur barus mengandung naftalen.


X. DAFTAR PUSTAKA
  • Agustina.2013. Analisis Kimia. Jakarta : Gramedia
  • Sulistyaningsih. 2015. Rekristalisasi Garam Rakyat Dari Daerah Demak Untuk Mencapai SNI Industri. Vol 2. No 4:76[diakses:28 februari 2019]
  • syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/07/pemurnian-zat-padat-organik93/
  • Syukri. 2003. Kimia Dasar 1. Bandung : ITB
  • Tim Kimia Organik.  2016.Penuntun Praktikum Kimia Organik I. Jambi: Universitas Jambi
link video :

https://youtu.be/SslvXZIobSc
permasalahan yang timbul dari praktikum yang telah dilakukan yaitu:
  1. Jelaskan mengapa suhu dapat mempengaruhi proses sublimasi ?
  2. mengapa pada percobaan sublimasi, saat dipanaskan cawan penguap ditutup oleh kerta saring?
  3. jika keterbatasan bahan di laboratorium untuk melakukan percobaan ini, maka bahan yang seperti apa yang akan digunakan serta dengan cara untuk memurnikan zat tersebut ? jelaskan argumen anda


LAMPIRAN FOTO PRAKTIKUM 
   
alat dan bahan yang digunakan
saat menimbang naftalen
saat memanaskan air untuk menyiram endapan
  
saat penyaringan campuran
kristal yang didapat pada proses sublimasi
                                     




5 komentar:

  1. Assalamualaikum wr wb.
    Saya Fadillah Fatma dengan NIM A1C118092 ingin membantu menjawab permasalahan nomor 2. Alasan digunakan kertas saring yang diberi lubang-lubang kecil adalah sebagai perantara untuk mempercepat terbentuknya kristal setelah naftalen menyublim. Semoga membantu.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Assalamualaikum wr wb
    Saya Rismayanti Nim A1C118007
    Saya akan menjawab pertanyaan no 3
    jika keterbatasan bahan di laboratorium untuk melakukan percobaan ini, maka bahan yang akan saya gunakan adalah kapur barus dan zat pengotor tanah, Karena kapur barus banyak terdapat di toko-toko terdekat.
    Dan teknik yang akan saya gunakan adalah teknik sublimasi.
    Terimakasih
    Semoga bermanfaat
    Wassalamualaikum wr wb

    BalasHapus
  5. assalammualaikum wr.wb
    perkenalkan nama saya indah syafitri NIM A1C118018 saya akan membantu menjawab pertanyaan no 1. karena suhu akan mempengaruhi proses sublimasi, Sublimasi akan terjadi jika zat padat menerima kenaikan suhu tertentu dimana menyebabkan partikel zat padat menyublim menjadi gas. oleh karena itu suhu mempengaruhi proses sublimasi

    BalasHapus