Selasa, 10 Maret 2020

LAPORAN 4 PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I

LAPORAN PRAKTIKUM  
KIMIA ORGANIK I




DISUSUN OLEH:

FITRIANTY
 (A1C118032)

DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI   
2020




VII. DATA PENGAMATAN
1.      Brom dalam tetraklorida
No.
perlakuan
hasil
1.
1 mL alkana +15 mL brom digoncang dan ditempatkan pada tempat gelap dan ditutup.
Warna larutan tetap tidak berubah (kuning) dan lebih jernih.
2.
1 mL alkana + 15 mL brom digoncang dan ditempatkan pada tempat terang serta ditutup.
Warna lautan kuning (lebih gelap) dan timbul asap
3.
1 mL dietil eter + 15 mL brom digoncang dan ditutup .
Terbentuk L1 dan L2 yang berturut-turut eter dan brom serta timbul asap.
4.
1 mL dietil eter + 15 tetes benzene digoncang dan ditutup.
Timbul asap dan larutan menjadi keruh


2
.   
Brominasi

No.
Perlakuan
Hasil
1.
Pada tabung 1 dimasukkan 1 mL benzene + 3 tetes Brom, kemudian dipanaskan dalam penangas.
Timbul uap( tidak tersisa).
2.
Pada tabung 2 dimasukkan 1 mL benzene + paku+ 3 tetes brom, kemudian dipanaskan dalam penangas .
Tidak timbul uap ( masih tersisa benzene dalam tabung).

3.    Larutan Kalium Permanaganat
No.
Perlakuan
Hasil
1.
Tabung reaksi 1 dimasukkan 1mL kalium permanganat + 5 tetes n-heksana, dan digoyang
Terbentuk warna larutan ungu tampak kemerahan
2.
Tabung 2 dimasukkan 1 mL kalium permanganat + 5 tetes eter, dan digoyang
Terbentuk warna larutan ungu kemerahan
3.
Tabung 3 dimasukkan 1 mL benzena + 2 mL kalium permanganat, dan digoyang
Warna larutan ungu, akan tetapi terbentuk dua lapisan


4.     Asam sulfat pekat
No.
Perlakuan
Hasil
1.
Tabung 1 dimasukkan 2 mL asam sulfat +10 tetes eter kemudian digoncang
Campuran berwarna jingga dan terasa panas pada saat digoncang
2.
Tabung 2 dimasukkan 2 mL H2SO4 + 10 tetes n-heptana, lalu digoncang
Campuran tidak saling melarutkan yang menyebabkan terbentuknya 2 lapisan (lapisan atas berwarna bening dan lapisan bawah agak keruh )

5.    Asam Nitrat
No.
Perlakuan
Hasil
1.
Tabung 1 dimasukkan 4 mL asam nitrat + 0,5 mL benzene, dimasukkan batu didih, kemudan dididihkan, dan dituang larutan kedalam es
Ketika bercampur timbul asap, gelembung. Ketika dididihkan berwarna bening, pada saat dituang kedalam es timbul asap dan bau menyengat (larutan keruh)
2.
Tabung 2 dimasukkan 4 mL asam nitrat + eter, diberi batu diidh, lalu dipanaskan dan dituang larutan kedalam es
Ketika bercampur timbul gelembung. Pada saat dipanaskan timbul warna orange, asap, serta bau menyengat. Pada saat dituang kedalam es larutan menjdi bening serta memberikan bau bayclin.
.


6.      Bahan Tak Dikenal 
No.
Perlakuan
Hasil
1.
Tabung 1 direaksikan sampel + H2SO4
Terbentuk 2 lapisan (lapisan bawah bening dan lapisan atas keruh)
2.
Tabung 2 direaksikan sampel + HNO3
Terbentuk 2 lapisan (lapisan atas dan bawah bening, cuman ada garis yang memisahkan larutan)
3.
Tabung 3 direaksikan sampel + air
Terbentuk 2 lapisan (lapisan atas seperti butir-butir air dan lapisan bawah bening)
4.
Tabung 4 direaksikan sampel + CHCl3
Keruh
5.
Tabung 5 direaksikan sampel + KMnO4
Terbentuk 2 lapisan (lapisan atas bening dan lapisan bawah ungu)
VIII. PEMBAHASAN
        Hidrokarbon ini terdiri dari atom C dan atom H atau sering kita kenal sebagai alkana, alkena, dan alkuna. Senyawa hidrokarbon ini dapat digunakan dalam sehari-hari seperti kebutuhan didapur dan bahan kendaraan. Senyawa ini umumnya dimanfaatkan melalui pembakaran sempurna dan tidak sempurna. Tanpa katalis, reaksi hidrokarbon tidak terjadi  yaitu aluminium cloride yangvmampu mengubah senyawa hidrokarbon berisomerisasi. Sebagai contoh seperti butana diisomerkan menjadi isobutana yang dimanfaatkan sebagai bahan baku utama penyusun bahan bakar premium serta penentu kualitasnya. Senyawa hidrokarbon yang tak jenuh dapat mengalami cracking dengan jalan adisi asam halida. 
http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/01/21/reaksi-reaksi-hidrokarbon/
     Berikut adalah pembahasan mengenai pengujian hidrokarbon menggunakan uji halogenasi, uji bayer, uji sulfonasi, uji nitrasi serta uji bahan tak dikenal.          
 8.1 BROM DALAM KARBON TETRAKLORIDA
Pada pengujian senyawa hidrokarbon menggunakan halogen ini digunakan 4 pengujian dimana brom ditambah dengan alkana pada tempat terang dangelap, dietil eter ditambah brom serta dietil eter ditambah dengan benzene.
a.    Pada tabung pertama dilarutkan 1 mL alkana dalam 15 mL brom digoncang, setelah itu ditempatkan ditempat gelap diserta ditutup. Pada percobaan kali ini didapatkan hasil warna setelah dilarutkan warna larutan kuning dan ditempatkan pada tempat gelap pun larutan tidak berubah akan tetapi lebih jernih dari sebelumnya. Hal ini menyebabkan bahwa jika alkana ditambah unsur halogen dan ditempatkan ditempat gelap tidak bereaksi.
b.    Dilanjutkan dengan tabung yang berbeda dan bahan yang sama yaitu 1 mL alkana dilarutkan dalam 15 mL brom lalu digoncang. Pada kali ini, praktikan menempatkan larutan tersebut pada tempat terang atau terkena sinar ultra violet. Dari percobaan yang dilakukan,praktikan mendapatkan hasil bahwa terjadinya perubahan warna yang awalnya kuning menjadi lebih pekat lagi dan menimbulkan asap yang menandakan adanya unsur halogen yang bereaksi. Dari data yang didapat menunjukkan bahwa alkana dapat bereaksi dengan adanya bantuan sinar UV.
c.    Dilanjutkan dengan tabung reaksi ketiga yaitu dengan mereaksikan 1 mL dietil eter dan 15 mL brom,lalu digoncangkan. Dari percobaan yang telah dilakukan, didapat hasil bahwasanya pada larutan tersebut terbentuk lapisan dimana lapisan tersebut adalah eter sebagai L1 dan brom sebagai L2 serta adanya asap yang menandakan adanya unsur halogen didalam campuran tersebut. Data yang didapat ini menunjukkan bahwa dietil eter tidak larut dalam brom meskipun terbentuk 2 lapisan.

d.    Dilanjutkan dengan tabung ke empat mereaksikan 1 mL dietil eter dengan 15 tetes benzene. Dilakukan dengan prosedur yang sama yaitu dengan menggoncang tabung tersebut dan diamati hasil dari penggoncangan tersebut. Dari percobaan yang telah dilakukan didapat hasil bahwa timbulnya asap dan larutan tersebut tampak keruh yang menunjukkan bahwa benzene tersebut adalah senyawa aromatik.

     8.2 BROM
      Uji yang kedua yaitu brominasi. Proses brominasi pada senyawa hidrokarbon ialah proses penambahan brom kedalam suatu senyawa hidrokarbon. Pada percobaan ini dilakukan dua perlakuan dimana salah satu tabung dimasukkan pada. Pada perlakuan ini, dua tabung reaksi masing-masing dimasukkan 1 mL benzene dan 3 tetes brom. Untuk percobaan ini, tabung l tanpa menggunakan paku sedangkan pada tabung ll dimasukkan paku. Lalu, kedua tabung tersebut dipanaskan dalam penangas. Dari data pengamatan, didapat hasil pada tabung l itu menimbulkan uap hingga tidak tersisa lagi larutan tersebut. Berbeda dengan tabung ll tidak menimbulkan uap ataupun gas hingga larutan tersebut masih tersisa dalam tabung. Hal ini membuktikan bahwa benzene jika ditambah dengan halogen khususnya brom terjadi reaksi pada suhu yang dikehendaki, namun jika diadisi unsur logam seperti paku maka benzene tersebut tidak bereaksi.


     8.3 LARUTAN KALIUM PERMANGANAT
           Selanjutnya ini adalah uji bayer menggunakan kalium permanganat. Pada perlakuan ini dilakukan 3 pengujian pada tabung reaksi.pada tabung l direaksikan 1 mL KmnO4 kemudian diteteskan n-heksana sebanyak 5 tetes, lalu tabung tersebut digoyang. Dari percobaan yang telah dilakukan, didapat hasil bahwa warna larutan tersebut berwarna ungu tampak kemerahan. Kemudian pada tabung ll dimasukkan 1 mL KmnO4 kemudian diteteskan eter sebanyak 5 tetes, kemudian digoyang hingga didapat hasil bahwa awalnya larutan KmnO4 berwarna ungu setelah ditambah eter larutan tersebut berwarna ungu kemerahan. Dilanjutkan dengan tabung lll dengan mereaksikan 1 mL benzena dengan 2 mL KmnO4 kemudian digoncang hingga didapat warna larutan akan tetapi larutan tersebut membentuk dua lapisan.
     8.4 ASAM SULFAT PEKAT
        Selanjutnya uji sulfonasi menggunakan asam sulfat pekat. Pada uji sulfonasi ini dilakukan dua percobaan dengan memasukkan pada masing-masing tabung reaksi 2 mL H2SO4. Pada masing-masing tabung diteteskan 2 indikator yang berbeda, dimana pada tabung l menggunakan eter 10 tetes dan pada tabung ll menggunakan 10 tetes n-heptana. Kemudian masing-masing tabung tersebut digoncang. Dari pengamatan yang dilakukan, didapat hasil bahwa pada tabung l campuran tersebut berwarna jingga dan terasa panas ketika digoncang. Pada perlakuan ini larutan terasa panas karena pengaruh dari asam sulfatnya. Berbeda dengan tabung ll, campuran ini tidak saling melarutkan hingga menyebabkan terbetuknya dua lapisan dengan lapisan atas tersebut bening sedangkan lapisan bawah agak keruh. Dari dua percobaan ini dapat dibuktikan bahwa asam sulfat ini bereaksi dengan eter akan tetapi dengan n-heptana tidak.
     8.5 ASAM NITRAT
Uji yang kelima yaitu uji nitrasi, dimana pada percobaan ini dilakukan dua percobaan. Pada tabung l direaksikan 4 mL asam nitrat ditambah dengan 0,5 mL benzene lalu dimasukkan batu didih dengan tujuan penambahan batu didih agar menghambat gelembung udara. Lalu larutan tersebut dipanaskan pada suhu yang dikehendaki. Setelah mendidih larutan tersebut dituang dalam es. Pada saat pencampuran larutan timbul asap dan gelembung, ketika dididihkan larutan menjadi bening, ketika larutan dituang dalam es timbul asap dan bau menyengat, pada percobaan ini larutan tampak keruh. Dilanjutkan pada tabung ll dilakukan dengan prosedur yang sama dengan mereaksikan 4 mL asam nitrat dengan eter, kemudian diberi batu didih dan dididihkan pada suhu dikehendaki. Pada saat mendidih larutan tersebut dimasukkan dalam es. Pada tabung ll ini ketika zat yang digunakan bercampur timbul gelembung, ketika dipanaskan timbul asap berwarna orange serta bau yang menyengat. Ketika larutan dituang kedalam es ada perubahan warna yang signifikan pada larutan yang awalnya orange berubah menjadi bening serta memberi bau yang tidak sedap yaitu bayclin.
     8.6 BAHAN TAK DIKENAL
       Uji yang terakhir yaitu uji senyawa yang tak dikenal apakah senyawa initermasuk kedalam senyawa tak jenuh, jenuh atau bahkan aromatik. Pada pengujian ini dilakukan lima perlakuan dengan pereaksi yang berbeda-beda, dimana pada tabung l sampel direaksikan dengan H2SO4, pada tabung ll sampel direaksikan dengan HNO3, pada tabung lll sampel direaksikan dengan air,pada tabung lV sampel direaksikan dengan CHCl3, dan pada tabung V sampel direaksikan dengan KMnO4. Dari percobaan yang telah dilakukan, didapat hasil bahwa pada tabung l terbentuk 2 lapisan dimana L1 keruh sedangkan L2 bening, pada tabung ll didapat hasil bahwasanya terbentuk 2 lapisan dimana L1 dan L2 keduanya bening. Kenapa hasil pada tabung ll ini disebut terbentuk dua lapisan dikarenakan ada garis yang memisahkan kedua larutan tersebut. Pada tabung lll diapat hasil bahwasanya ketika sampel ditambah air terbentuk 2 lapisan dimana L1 seperti butir-butir air dan L2 bening. Pada tbung lV ketika sampel direaksikan dengan CHCl3 larutan menjadi keruh. Dan pada tabung terakhir yaitu tabung V ketika sampel direaksikan dengan KMnO4 terbentuk 2 lapisan dimana L1 bening dan L2 ungu. jadi dapat disimpulkan bahwa senyawa tak dikenal ini adalah senyawa aromatik dimana setiap direakikan dengan pereaksi yang berbeda-beda menghasilkan atau terbentuknya lapisan pada campuran tersebut. Berikut adalah hasil yang didapatkan pada saat praktikum berturut-turut yaitu : H2SO4, HNO3, air, CHCl3, dan KMnO4


IX. KESIMPULAN
         Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini sebagai berikut:
  1. untuk senyawa alifatik jenuh akan sullit mengalami reaksi apalagi jika direaksikan dengan unsur halogen (F, Cl, Br, I), H2SO4, HNO3, dan alkohol. Hal ini terjadi karena senyawa ini bersifat jenuh hingga tidak bisa mengalami reaksi baik itu adisi maupun substitusi. Berbeda dengan senyawa aromatik yang dapat bereaksi dengan HNO3, H2SO4 serta halogen (F, Cl, Br, I), yang menyebabkan terjadinya pemutusan rangkap.
  2. Terdapat beberapa macam reaksi kimia untuk membedakan senyawa tersebut tergolong ke senya alifatik atau senyawa aromatik, yaitu melalui reaksi adisi, substitusi, serta eliminasi.
  3. Teknik yang digunakan dalam pengujian golongan senyawa hidrokarbon dapat dilakukan dengan uji brom, uji bayer, sulfonasi, atau dengan nitrasi.
X. DAFTAR PUSTAKA
http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/01/21/reaksi-reaksi-hidrokarbon/ 
Marsoali, 2005. Ilmu Farmasi. Jakarta:UI Press
Syukri. 2000. Kimia Dasar 1. Bandung : ITB
Tim Kimia Organik.  2016.Penuntun Praktikum Kimia Organik I. Jambi: Universitas            Jambi
Wijayaratih. 2001. Perombakan Senyawa Hidrokarbon Aromatik Polisilik (naftalen)          Pada Kadar Tinggi Oleh Pseudemenes. Jurnal Manusia dan Lingkunagn . Vol              VIII. No 3.
link video :
https://youtu.be/KHW90zWyLO4
permasalahan yang timbul dari praktikum yang telah dilakukan yaitu:
  1. mengapa pada saat dipanaskan tabung 2 yang berisi asam nitrat+eter timbul asap berwarna orange?
  2. dari percobaan yang telah dilakukan, mereaksikan sampel yang sama dengan pereaktan yang berbeda-beda terbentuknya dua lapisan. mengapa pada saat penambahan reaktan CHCl3  tidak terbentuk lapisan?
  3. mengapa pada saat uji halogenasi (brom) menghasilkan hasil yang berbeda, ketika ditambah paku tidak timbul uap?
LAMPIRAN FOTO PRAKTIKUM
bahan yang digunakan
hasil yang didapat air+bahan tak dikenal
saat meneteskan KmnO4 
hasil yang didapat menggunakan bahan yang tak dikenal
hasil yang didapat ketika uji bayer





3 komentar:

  1. Assalamualaikum wr wb hallo fitrianty saya dwi kartini nim 058 akan mencoba menjawab pertanyaan fitri nmer 1. Menurut saya asap orange timbul karena adanya proses denaturasi pada pemanasan campuran tersebut. Terimakasihh

    BalasHapus
  2. Assalammualaikum wr.wb
    Perkenalkan nama saya Radiah (A1C118045)..
    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no.3
    Menurut saya perbedaan yang didapat pada percobaan ini adalah pada saat Benzena ditetesi oleh Brom, larutan menguap tanpa sisa dan pada benzena yang ditambahkan paku bukan tidak timbul uap, tetapi larutan tersebut menguap hanya saja ia menguap sebagian akibatnya larutan tersebut masih bersisa sebab pada larutan benzen yang ditetesi brom dan ditambahkan paku, pada larutan ini akan terjadi reaksi halogenasi dengan besi.
    Semoga bisa membantu

    BalasHapus
  3. Saya Ryan Willianto dengan nim A1C118019 akan mencoba menjawabsoal nomor 2. Tidak timbulnya 2 fasa atau lapisan dapat disebabkan oleh kepolaran yang hampir sama antara 2 senyawa yang timbul, sehingga dapat saling melarutkan antar senyawa. Sekian pembahasan saya, semoga bermanfaat.

    BalasHapus